Kamis, 20 April 2017

Doa dan Hukum Sebab-Akibat

Allahumma adkhil ‘ala ahlil qubûrissurûr
Ya Allah, masukkanlah kebahagiaan kepada penghuni kubur
Demikian untaian doa yang sangat pengasih, orang yang sudah meninggal pun didoakan, bukankah ini suatu kepedulian yang jauh dari sifat egois?, saat ini memang kita tidak tahu bagaimana keadaan orang-orang yang telah meninggal, dan karena Allah SWT maha pengasih dan penyayang, maka selain diutusnya Nabi Muhammad SAW juga dengan shalawat serta doa menjadi senjata bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah, dan tentunya doa wajib dipahami sehingga tidak hanya menjadi lafaz di bibir saja atau hanya senandung yang menghiasi even-even ritual dan setelah itu tak berbekas, bukan seperti itu, namun DOA adalah hal yang terkait banyak hal untuk satu hal.
Doa adalah sarana untuk mencapai tujuan akhir seseorang. Hukum universal ‘sebab-akibat’ juga menunjukkan bahwa kita memang harus mencari pertolongan dari Sebab Utama, yakni Allah Yang Mahakuasa. Dengan demikian, dalam kondisi ketika segala sesuatu itu bisa diperoleh dengan cara-cara alamiah sesuai hukum alam, manusia tetap tidak bisa beranggapan bahwa dirinya tidak butuh permohonan doa.
Di sisi lain, sebagian orang boleh jadi beranggapan bahwa permohonan doa saja sudah cukup sehingga tidak perlu menyertainya dengan usaha untuk mencapai tujuan. Tentu saja, pandangan ini jelas-jelas sangat keliru dan jahil karena Allah Yang Mahakuasa telah menetapkan sistem hukum sebab-akibat dan menganjurkan kepada umat manusia agar bekerja sesuai hukum tersebut demi tujuan akhirnya yang mulia. Sabda Imam Ja’far Shadiq as menguatkan hal ini :
Allah tidak mengizinkan segala sesuatu terjadi kecuali melalui sebab-sebabnya; maka Dia menetapkan sebuah sebab untuk setiap hal. (Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jil.2, hal.90).
Berusaha Memasukkan Kebahagiaan kepada Mereka yang Telah Wafat
Selanjutnya, setiap pemohon doa yang telah mengerti hukum sebab-akibat pasti akan mencari tahu sebab-sebab “tertanamnya kebahagiaan sejati pada ruh-ruh para penghuni kubur”, selain doa untuk para penghuni kubur tersebut. Riwayat-riwayat suci dalam agama kita (yang sebenarnya merupakan perluasan dari kitab suci) menjelaskan tentang bagaimana cara membahagiakan orang yang telah meninggal dunia. Berikut ini riwayat-riwayat yang patut direnungkan:
Imam Ja’far Shadiq as ditanya, ”Mungkinkah mendoakan orang yang telah mati?” Beliau menjawab, ”Ya,” dan beliau menambahkan, “Sungguh, orang yang telah meninggal bersuka ria apabila ia dikasihani dan ampunan dicarikan untuknya, sebagaimana orang yang menerima hadiah ketika hidup.” (Mulla Faidh Kasyani, Al-Mahajjat al-Baydha’, jil.8, hal.292).
Rasulullah saw pernah melintas di dekat makam seseorang yang baru kemarin dimakamkan. Beliau melihat keluarga orang itu tengah meratapi kematiannya. Melihat hal ini, Baginda saw bersabda, “Salat dua rakaat yang kalian anggap tidak berarti apa-apa jauh lebih disukai oleh penghuni kubur ini daripada seluruh dunia kalian.”(Tanbih al-Khawatir, hal.453)
Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya hadiah (dari orang yang hidup) untuk orang yang telah meninggal adalah doa dan istigfar (memintakan ampunan untuk dosa-dosa orang yang telah mati tersebut).” (Mulla Faidh Kasyani, Al-Mahajjat al-Baydha’, jil.8, hal.291).
Imam Ali Ridha as diriwayatkan pernah berkata, “Barangsiapa dari hamba-hamba Tuhan yang berziarah ke makam orang yang beriman dan mengucapkan Inna anzalnahu fi laylati’l qadr (yakni membaca surah al-Qadr) sebanyak tujuh kali, maka Allah akan mengampuninya dan juga penghuni kubur itu (yang diziarahi).” (Sayid Yusuf Ibrahimiyan Amuli, Armaghan_e Asman, hal.541 & Syekh Saduq, Man La Yahdhuruh al-Faqih, jil.1, hal.181)
Rasulullah saw diriwayatkan pernah bersabda, “Barangsiapa melewati kuburan dan mengucapkan Qul Huwallahu Ahad (yakni, surah al-Ikhlas) sebanyak sebelas kali dan memberikan pahalanya kepada orang yang telah mati, maka ia akan diberi pahala yang setara dengan jumlah orang yang mati itu.”(Haji Mirza Husain Nuri Thabrasi, Mustadrak al-Wasa’il, jil.2, hal.483)
Imam Ja’far Shadiq as diriwayatkan pernah berkata, “Salat, puasa, haji, sedekah, perbuatan baik dan doa sampai kepada orang yang meninggal di kuburannya dan pahalanya dituliskan untuk orang yang menunaikannya dan orang yang telah meninggal itu.” (Syekh Muhammad bin Hasan Hurr Amili, Wasa’il asy-Syi’ah ila Tahsili Masa’il asy-Syari’at, jil.8, hal.279)
Imam Ja’far Shadiq as diriwayatkan pernah bersabda, “Barangsiapa di antara orang-orang Muslim yang melakukan perbuatan baik untuk orang yang telah meninggal dunia, maka Allah memberinya pahala yang berlipat ganda dan Allah menjadikan orang yang meninggal itu juga mendapatkan manfaat yang sama.”[Syekh Muhammad bin Hasan Hurr Amili, Wasa’il asy-Syi’ah ila Tahsili Masa’il asy-Syari’at, jil.8, hal.279]
Oleh karena itu, apabila kita hendak berdoa untuk orang yang telah meninggal dunia supaya diberi kebahagiaan di alam barzakh, maka kita harus berusaha keras untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat memberikan kebahagiaan bagi orang yang telah meninggal itu dan berdoa dengan rendah hati kepada Allah Yang Mahakuasa supaya menerima segala amal perbuatan kita tadi.
Almarhum Ayatullah Syahabuddin Mar’asyi dalam wasiat terakhirnya (Ayatullah Uzhma Mar’asyi Najafi, Wasiyyatname_ye Ayatullah al-‘Uzhma Mar’ashi). memberikan nasihat yang membakar semangat kepada putra beliau. Salah satu nasihatnya adalah:
“Aku menasihatinya (putraku) supaya membaca Kitab Suci al-Quran dan smengirimkan pahalanya kepada ruh-ruh para pengikut Ahlulbait Rasulullah saw yang tidak punya keturunan.”
Karena itulah, di bulan suci yang penuh kasih ini, janganlah kita melupakan para penghuni kubur, termasuk orang-orang yang tidak kita kenal. Marilah kita juga berdoa untuk para penghuni kubur yang kufur (tidak beriman), yang secara lahiriahnya tidak beriman namun sesungguhnya mengakui keesaan Allah dan menjadi Muslim menjelang kematian mereka.
Dalam Chehl Hadith (Empat Puluh Hadis), Almarhum Imam Khomeini (semoga Allah memuliakan ruh beliau) menyampaikan pemikiran dari guru beliau, yakni Ayatullah Syahabadi, dalam pembahasan irfan. Imam Khomeini berkata:
“Syekh kita, seorang arif sempurna (yakni Ayatullah Syahabadi)—semoga jiwaku menjadi tebusannya—biasa mengatakan, ’Jangan pernah memohonkan laknat atas siapa pun, meskipun dia adalah seorang yang kafir karena kamu tidak tahu bagaimana dia membuat tempat transitnya (alam kubur) dari dunia ini menuju (kehidupan) selanjutnya, kecuali jika seorang wali (orang suci) memberitahumu tentang keadaannya setelah kematian. Karena, boleh jadi dia telah meraih keimanan sebelum tiba saat kematian. Karena itu, biarlah laknatmu menjadi suatu gambaran umum (tidak khusus ditujukan pada seseorang).’”(Imam Khomeini, Chehl Hadith, riwayat 28).
Imam Khomeini juga berkata di tempat lain : “Guru besar kita, seorang arif sempurna, Syah Abadi, biasa berkata, ’Jangan meremehkan sekalipun seorang yang kafir di hatimu. Mungkin saja hidayah ketuhanan dari fitrahnya telah membimbingnya pada keimanan sedangkan makian dan penghinaanmu boleh jadi justru membawamu menuju kehidupan yang menyedihkan di akhirat. Tentu saja, tindakan amar makruf nahi mungkar (melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran) adalah sesuatu yang berbeda dengan perasaan jijik dalam hati.’ Bahkan beliau ingin menyampaikan, ’Jangan pernah melaknat orang-orang yang tidak beriman karena tidak diketahui apakah mereka meninggalkan dunia ini dalam keadaan tidak beriman. Jika mereka meninggalkan dunia ini sebagai hamba-hamba Tuhan di jalan yang benar, maka perbaikan spiritual mereka boleh jadi menjadi penghalang bagi kemajuan spiritualmu sendiri.’”
Dengan demikian, apabila kita sedang berdoa, seyogianya kita memantapkan diri untuk melakukan perbuatan baik demi umat Muslim yang telah meninggal dunia dan mendoakan kebahagiaan mereka di alam kubur.
Alfatiha ma’a Shalawat…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Agama

Ziarah Kubur Muslim

*Amalan Ziarah Kubur Muslimin* *Saat Imam Shadiq as ditanya bagaimana cara kita menyampaikan salam kepada Ahli Kubur? Beliau menjawab:* ...

Herbal