Sabtu, 23 September 2017

ciri pembenci Imam Ali as

TERNYATA....  PEMBENCI SYI’AH ALI AS ADALAH......

Jabir bin Abdullah Anshari meriwayatkan:

"Ketika kami bersama Rasulullah saww di Mina, tiba-tiba kami melihat seorang lelaki sedang sujud, ruku dan berdoa dengan mengiba-iba.
Kami berkata, 'Ya Rasulullah, betapa indah shalatnya lelaki itu!'
Namun Rasulullah saww berkata, 'Lelaki itulah yang mengeluarkan ayah kalian (Adam as) dari surga.'
Lalu tanpa basa basi Ali as menuju kepadanya dan memukulnya dengan pukulan keras hingga tulang-tulang rusuknya berpindah posisi, yang kanan masuk ke kiri dan yang kiri masuk ke kanan. Kemudian Ali berkata kepadanya, 'Aku akan membunuhmu insya Allah!'
Namun lelaki itu (iblis) berkata, 'Engkau tidak akan bisa melakukan itu hingga waktu yang telah ditetapkan Tuhanku tiba. Buat apa engkau ingin membunuhku. Demi Allah! tiada seorang pun yang membencimu kecuali spermaku lebih dahulu masuk ke rahim ibunya orang itu sebelum sperma ayahnya. Sungguh aku menjadi sekutu para pembencimu dalam harta dan anak-anak mereka, dan itulah firman Allah dalam Kitab-Nya,
وَشَارِكْهُمْ فِى اْلأَمْوَالِ وَالْأَوْلاَدِ
(Dan jadilah sekutu mereka dalam harta dan anak-anak mereka).'

Rasulullah saww berkata, 'Ia (iblis) berkata benar wahai Ali!'
Kemudian Rasulullah saww berkata, 'Wahai kaum Anshar! perkenalkanlah anak-anak keutamaan-keutamaan Ali agar mereka mencintainya. Jika mereka meresponnya positif maka mereka adalah anak-anak kamu, namun jika mereka enggan maka mereka bukan anak-anak kamu.'"

Jabir berkata, "Karenanya kami mengenalkan anak-anak kami keutamaan-keutamaan Ali agar mereka mencintainya. Jika ia mencintai Ali maka kami mengetahui bahwa ia adalah anak kami, dan jika ia membenci Ali maka kami menafikannya."

📚 'Ilal al-Syaraai' karya Syekh Shaduq, halaman 143-144

Minggu, 10 September 2017

Hakikat Shalawat

Shalawat sebagai tawassul pembuka hijab
--------
Do'a masih akan terhalang bila orang yang berdo'a tersebut tanpa bertawassul dengan bersholawat pada Nabi saw.. Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib kw. berkata:

‘Setiap do'a antara seorang hamba dengan Allah selalu diantarai dengan hijab (penghalang, tirai) sampai dia mengucapkan sholawat pada Nabi saw.. Bila ia membaca sholawat, terbukalah hijab itu dan masuklah do'a.' (Kanzul ‘Umal 1:173, Faidh Al-Qadir 5:19)

Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib kw. juga berkata, Rasulallah saw. bersabda:
“ Setiap do'a terhijab (tertutup) sampai membaca sholawat pada Muhammad dan keluarganya”. ( Ibnu Hajr Al-Shawaiq 88 )

"Sesungguhnya orang-orang yang memaggilmu (bershalawat) dari belakang bilik-bilik (masih terhijab batinnya) itu, kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka bersabar, sampai engkau (Nur Muhammad) keluar (menampakkan) kepada mereka, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang" (QS 49 : 4-5)

Al-Allamah sayyid Abdurrohman bin musthofa Al-Idrus  menyatakan dlam penjelasan Beliau tentang sholawatnya sayyid Ahmad Al-Badawi.
Komentar ini di tulis dalam kitab yang berjudul ”Miraatu Al-Syumus fi manaqibi Aali Al-Idrus : Bahwa di akhir zaman nanti, ketika sudah tidak di temukan seorang murobbi (Mursyid) yang memenuhi syarat, tidak ada satu pun amalan yang bisa mengantarkan seseorang wushul (ma’rifat) kepada Allah kecuali bacaan Sholawat kepada Nabi SAW, baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.

Sampai-sampai sebagian kaum “arifin”, mengatakan :
“sungguhnya sholawat itu, bisa mengantarkan pengamalnya untuk ma’rifat kepada Allah, meskipun tanpa guru spiritual ( mursyid )” .
Karena guru dan sanadnya, langsung melalui Nabi.

setiap sholawat yang dibaca seseorang selalu diperlihatkan kepada beliau dan beliau membalasnya dengan do’a yang serupa ,hal ini berbeda dengan dzikir-dzikir selain sholawat  yang harus melalui bimbingan guru spiritual/mursyid, yang sudah mencapai maqom ma’rifat. Jika tidak demikian, maka akan dimasuki syaithon, dan pengamalnya tidak akan mendapat manfaat apapun”.
( Hasyisyah Ash-Showi ‘la Al-Jalalain, Hal :287,Juz III, Toha Putra )
---------
KEAJAIBAN SHALAWAT

Ada seorang sufi (ahli tasawuf) menceritakan pengalaman hidupnya tentang keajaiban dari shalawat Nabi saw. Ia menuturkan bahwa ada seorang penjahat yang sangat melampaui batas yang kehidupannya hanya diisi dengan perbuatan-perbuatan maksiat.

Demikian tenggelamnya penjahat itu ke dalam lumpur kemaksiatan seperti kebiasaan mabuk-mabukan, ia tidak bisa lagi membedakan mana hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Sang sufi lalu menasehati sang penjahat agar ia tidak mengulangi lagi kedurhakaannya, dan segera bertobat pada Allah swt. Namun demikian, penjahat tetaplah penjahat, nasehat sang sufi tidaklah digubrisnya. Ia tetap bersikeras untuk melakukan perbuatan-perbuatan bejatnya sampai sang ajal datang menjemputnya. Sang penjahat, menurut sufi, benar-benar yang bernasib tidak baik karena ia tidak sempat mengubah haluan hidupnya yang hina dan bahkan tidak sempat bertobat.
Secara logis, sang sufi mengatakan bahwa si penjahat akan dijebloskan Allah SWT ke dalam azab neraka. Namun apa yang terjadi? Pada suatu malam, sang sufi bermimpi, ia melihat sang penjahat menempati posisi yang amat tinggi dan mulia dengan memakai pakaian surga yang hijau yang merupakan pakaian kemuliaan dan kebesaran. Sang sufi pun terheran-heran dan bertanya pada sang penjahat, “Apakah gerangan yang menyebabkanmu mendapatkan martabat setinggi ini?” Sang penjahat menjawab, “Wahai sang sufi, ketika aku hadir di suatu majelis yang sedang melakukan dzikir, aku mendengarkan orang yang alim yang ada disitu berkata, “Barangsiapa yang bershalawat atas Nabi Muhammad SAW niscaya menjadi wajib baginya mendapatkan surga.” Kemudian sang alim itu mengangkatkan suaranya demi membacakan shalawat atas Nabi saw, dan aku pun beserta orang-orang yang hadir disekitarnya mengangkat suara untuk melakukan hal yang sama. Maka, pada saat itulah, aku dan kami semua diampuni dan dirahmati oleh Allah SWT Yang Maha Pemurah terhadap nikmatNya.
-------------
HAKEKAT SHALAWAT

Dalam hadits qudsyi disebutkan, bahwa pada awalnya alam semesta ini berupa hamparan Zat Ilahi yang meliputi segala, tidak ada zat lain kecuali Zat-Nya saja. Oleh karena Dia itu Zat terahasia Yang ingin diketahui (Kuntu Kanzan Mahfiyan, Ahbabtu an u’rifa), maka diciptakanlah ciptaan (fa kholaqtu kholqo). Ciptaan pertama itulah yang disebut CAHAYA YANG TERPUJI (Nuur Muhammad). Nah Nuur Muhammad itulah sumber dari segala sumber penciptaan alam semesta. Dengan\Nuur Muhammad itulah alam semesta yang semula awang-uwung menjadi ada sumber bahan alam yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Begitulah makna hadits ‘laulaka laulaka maa kholaqtu al-aflah’, yang menunjuk penciptaan Cahaya Muhammad sebagai Sumber penciptaan alam semesta,”
--------------
NABI MENJAWAB SALAM

hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dâwud rahimahullah. Arti hadits tersebut ialah: Tidak ada seorangpun yang memberi salam kepadaku, kecuali Allâh Azza wa Jalla mengembalikan rohku kepadaku, sehingga aku membalas salamnya.

hadith daripada Abdullah ibn Mas’ud RA, daripada Nabi SAW bersabda maksudnya: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berlegar-legar di muka bumi, untuk menyampaikan kepada saya salam daripada umat saya

Al Hafiz Abu Zur’ah al ‘Iraqi berkata di dalam Kitab al Janaiz, dari kitabnya Tarh al Tathrib fi Syarh al Taqrib: Sanad hadith ini adalah baik. Al Hafiz al Haithami berkata di dalam Majma’ al Zawa’id (jilid 9, halaman 24): Hadis ini diriwayatkan oleh al Bazzar, dan perawi-perawinya adalah perawi yang sahih. Ia menunjukkan bahawa Nabi SAW mengetahui tentang amalan kita kerana ia dibentangkan kepadanya dan Baginda SAW memohon keampunan kepada Allah untuk kita atas kejahatan dan keburukan yang telah kita lakukan. Jika demikian keadaannya, maka diharuskan kita bertawassul dengan Baginda SAW kepada Allah dan memohon syafaatnya di sisi Allah SWT.

Hadis lain yang menunjukkan wujudnya pertalian kehidupan Nabi SAW di alam barzakh dengan umatnya yang masih hidup, ialah hadith daripada ’Ammar ibn Yasir RA di mana beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah mewakilkan bagi kubur saya malaikat yang Allah telah diberikan kepadanya nama-nama sekalian makhluk. Maka tidak seorang pun yang bersalawat ke atas saya sehingga hari Kiamat melainkan dia menyampaikan kepada saya dengan namanya dan nama bapanya, ”Ini Fulan ibn Fulan, dia telah bersalawat ke atas engkau.”

Demikianlah kasih sayang Allah SWT ke atas umat ini sehingga Dia tidak memutuskan hubungan mereka dengan kekasih-Nya Sayyiduna Muhammad SAW hanya disebabkan oleh sebuah kematian. Rasulullah SAW sentiasa hampir dengan kita selaku umatnya, lebih-lebih lagi bagi mereka yang tidak putus-putus mengucapkan salawat dan menitipkan syair-syair indah tanda kerinduan dan kecintaan terhadap Baginda SAW. Bagaimana mungkin kita selaku umat yang mengharapkan syafaatnya di akhirat kelak melupakan Baginda SAW sedangkan Baginda SAW sentiasa mendoakan kerahmatan dan keampunan atas setiap kesalahan yang kita lakukan.

Sabtu, 09 September 2017

cinta Seekor anjing kpd Imam Ali as

CINTA SEEKOR ANJING KEPADA AMIRUL MUKMININ

Di buku 'Kisah-kisah Shalat', hal. 26-27, Ayatullah Qasim Mirkhalaf Zadeh menukil bahwa seorang periwayat hadist mengatakan,

Suatu hari saya bersama Rasulullah saw. Lalu beliau saww melaksanakan shalat subuh. Stlh selesai melaksanakan shalat, seorang Anshar datang menemui belia saw dan berkata,

"Wahai Rasulullah, ketika saya sampai di dpn pintu rumah si fulan, anjingnya menghadang saya dan menggigit baju saya serta melukai kaki saya."

Kemudian dia menunjukkan kpd belia saw luka yg ada di kakinya. Lelaki Anshar tsb juga merasa kecewa, krn tak dapat melaksanakan shalat subuh bersama Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw bangkit; —hendak menuju rumah si pemilik anjing itu— seraya berkata,

"Anjing yg buas harus di bunuh."

Setiba kami di dpn rumah si pemilik anjing itu, Anas mengetuk pintu rumah, dan si pemilik rumah keluar seraya berkata,

"Wahai Rasulullah apa yg mendorongmu datang kerumah saya, pdhl saya tdk meyakini agamamu?"

Rasulullah saw berkata,

"Engkau memiliki seekor anjing yg setiap hari melukai seseorang dan merobek bajunya. Bawalah kemari anjingmu itu, krn anjing yg buas wajib dibunuh."

Lelaki itu masuk ke dlm rumah, lalu mengikatkan seutas tali di leher anjingnya dan membawanya keluar. Tatkala anjing tsb menatap wajah suci Rasulullah saw, dgn kekuasaan Ilahi, ia mampu bicara,

"Salam atasmu, wahai Rasulullah, apa yg mendorongmu datang kemari dan mengapa saya wajib dibunuh?"

Rasulullah saw berkata,

"Kemarin engkau melukai kaki dan merobek baju si fulan, dan skrg engkau melukai kaki dan merobek baju orang ini, sehingga dia tdk sempat melaksanakan shalat berjamaah."

Anjing itu menjawab dgn bahasa yg jelas,

"Wahai Rasulullah, saya tdk mengganggu orang2 mukmin, tetapi kedua orang itu adlh orang2 munafik dan memusuhi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Di rumah, mereka mencaci-maki putra pamanmu. Jika bukan krn itu, maka saya takkan menyakiti mereka; tetapi rasa cinta saya kpd Amirul Mukminin mendorong saya untuk sedapat mungkin menyakiti dan menghinakan para musuhnya."

Setelah Rasulullah saw mendengar jwbn ini dari mulut anjing itu,  beliau berpesan kpd pemiliknya agar memperlakukan anjingnya dgn baik. Tatkala lelaki si pemilik anjing yg non-muslim itu menyaksikan kejadian ini, dia segera merebahkan diri di kaki Rasulullah saw seraya berkata,

"Wahai Rasulullah, anjing ini telah memberikan kesaksian atas kerasulanmu dan saya lebih rendah darinya. Dan skrg, ulurkanlah tanganmu dan saya akan memeluk Islam. Saya bersaksi atas keesaan Allah dan kerasulanmu, dan engkau adlh utusan Allah dan putra pamanmu adlh washimu dan wali Allah; siapa saja yg berbuat buruk kepadanya, dia seribu kali lebih hina ketimbang anjing." Kemudian, seluruh penghuni rumah tsb memeluk Islam.

***
Salah satu hal alamiah yg selaras dgn penciptaan bumi ini adlh bahwa setiap makhluk (khususnya manusia) pastilah mencari dan meniru teladan2nya. Kecintaan, pengakuan kpd Rasulullah saw dan kpd Amirul Mukminin sebenarnya merupakan keniscayaan dlm hidup bagi mereka2 yg mengaku dirinya sbg Muslim, terlebih Mukmin. Dr itu, betapa bahagianya dan puas hati mereka2 yg patuh, yg hidupnya senantiasa dipenuhi cinta dan kerinduan yg mendalam kpd Rasulullah saw, kpd Amirul Mukminin dan kpd para penerusnya yg suci.

Bisa kita baca dan telusuri lebih dlm di buku2 sejarah yg tdk terkontaminasi oleh distorsi2 palsu, bahwa setelah Rasulullah saw tdk ada lagi pribadi2 yg begitu menarik perhatian, yg begitu mempesona nan bijaksana, jujur, ikhlas, berakhlak mulia dan berilmu tinggi selain drpd Amirul Mukminin, keturunan2nya yg suci dan para pengikutnya yg sederhana.

Betapa tdk, krn Amirul Mukminin dan keturunan2nya yg suci itulah yg telah berhasil dgn sungguh2 berjuang dlm menjaga kemurnian ajaran agama yg di bawa oleh Rasulullah saw. Sebagaimana tesis yg disampaikan oleh Sayyid Ali Khamene'i di buku Para Pengawal Agama, juga di buku Manusia 250 Tahun, bahwa bila bukan krn mereka—para washi Rasulullah saw— maka agama Islam sudah bercampur baur dgn bid'ah2 dan tentunya akan terancam punah.

Tdk pernah kafir, tdk pernah mengubur anak hidup2, tdk pernah lari dari musuh, tdk pernah mengejar/ membunuh musuh yg lemah, tdk pernah membantah Rasulullah saww, juga tdk pernah berniat untuk membunuh Rasulullah saw, tdk pernah mencuri harta baitul mal, tdk pernah berbohong, tdk pernah berbuat zina, tdk pernah mengambil yg bukan haknya, tdk pernah bermewah2an, tdk pernah makan sampai kekenyangan,  tdk pernah bodoh, tdk pernah menghindar dr pertanyaan2, tdk pernah mencaci, tdk pernah melakukan fitnah, tdk pernah akrab sedikit pun dgn perbuatan2 tercela, tdk pernah menelantarkan mustad'afin, dan sampai kapan pun tdk pernah rela bila orang2 miskin tidur kelaparan meskipun beliau sendiri sering dlm keadaan lapar.

Betapa harum semerbaknya hari ini, —sebisa mungkin— mengisi jiwa kita yg telah lama kosong.
Selamat Hari Ghadir Khum 1438 H,
Semoga keluasan cahaya Amirul Mukminin senantiasa meliputi semesta, khususnya diri kita. Juga, semoga tekad dan kesungguhan kita semakin membaja dlm meneladani sepak terjang dan sifat2 Amirul Mukminin 🙏🏻

Wallahu A'lam...

(Ardi Yazdy)

Jumat, 08 September 2017

Abu lu lu

MENJAWAB TUDUHAN SALAFY WAHABI :
KUBURAN ABU LU' LU PEMBUNUH KHALIFAH UMAR YANG KONONNYA DIPUJA SEKELUMIT SYIAH GARIS KERAS ITU BERADA DI KASYAN
.
Mengapa di Iran dibangun tempat ziarah pembunuh Khalifah Umar ?
benar bahwa kuburan Abu Lu’lu pembunuh Khalifah Umar itu berada di Kasyan?
.
Mengapa di Iran dibangun tempat ziarah pembunuh Khalifah Umar?
.
Firuz atau Abu Lu’lu (yang dinilai sebagai pembunuh khalifah kedua Umar) merupakan seorang yang tidak jelas keberadaannya dalam sejarah. Sebagian literatur menyebutkan bahwa agama yang dianutnya adalah Zoroaster,[1] dan sebagian lainya mengklaim bahwa ia adalah pemeluk agama Kristen.[2]
.
Terkait dengan motif pembunuhan Umar; pada umumnya literatur-literatur menyebutkan: Mughirah bin Syu’bah dalam sebuah surat meminta kepada Umar untuk mengirim Abu Lu’lu ke Kufah supaya keahliannya dalam bidang besi, kayu, dan melukis itu dapat dimanfaatkan. Umar kemudian menyetujui permintaan ini. Setelah beberapa lama, Abu Lu’lu mengeluhkan upah yang diterima dari Mughirah (yang setiap harinya membayar dua Dirham atau sebulan sebanyak tiga Dirham).
Umar menolak keluhan Abu Lu’lu dan akhirnya terjadilah pertengkaran mulut di antara keduanya. Setelah beberapa lama, Abu Lu’lu menikam Umar dengan sebilah pisau yang membuat nyawa Umar melayang.[3]
.
Sebagian sejarawan berbicara tentang biografi dan akhir hidup Abu Lu’lu. Mereka menyatakan bahwa karena melakukan perbuatan membunuh Umar, Abu Lu’lu ditangkap kemudian dibunuh.[4] Sebagian lainnya menyebutkan bahwa Ubaidillah bin Umar, demi membalas pembunuh sang ayah, membunuh Abu Lu’lu dengan putrinya berserta dua orang Persia lainnya yang bernama Hurmuzan dan Jufainah.[5]
.
Kita tidak memiliki informasi akurat tentang apa yang menimpa jasad Abu Lu’lu. Sebagian sejarawan kontemporer berkata, “Abu Lu’lu Firuz sesuai dengan riwayat Syiah kabur dari Madina menuju Irak dan wafat di Kasyan.”[6]
Bagaimanapun, terdapat sebuah kuburan kuno yang disandarkan kepada Abu Lu’lu terbangun di Kasyan yang tentu saja tidak dapat diandalkan kebenaranyna; karena sejarawan yang menukil tentang bagaimana Abu Lu’lu, keluarga dan sahabat-sahabatnya terbunuh, mengatakan bahwa mereka terbunuh di Madinah[7] dan terdapat banyak dalil yang menyatakan bahwa kuburannya bukan di Kasyan. Di antara dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut:
Jauhnya jarak antara Madina dan Kasyan yang akan menyebabkan membusuknya badan Abu Lu’lu.
Sebagaimana yang disebutkan kampung asli Abu Lu’lu adalah Nahawand bukan Kasyan.
Dalam literatur-literatur muktabar dan kuno sejarah Syiah terdapat sebuah sanad yang tidak menyebutkan bahwa kuburan pembunuh Umar itu di Kasyan.
[8]
Demikian juga dapat dikatakan, “Orang-orang Persia dahulu di Kasyan membangun tugu peringatan untuk Abu Lu’lu, bukan menyatakan bahwa kuburannya terdapat di Kasyan. Pada masa-masa berikutnya tugu peringatan tersebut secara keliru dianggap sebagai kuburan Abu Lu’lu sebagaimana tugu peringatan yang dibangun untuk Imam Ali As di Harat, putra-putra Muslim di Muzduran Sarkhas, Abu Muslim di Thus.”
[9]
.
Di kota Kashan yang termasuk ke dalam wilayah Provinsi Isfahan, Iran, terdapat sebuah bangunan makam yang diyakini sebagai tempat dikuburkannya Abu Lu’lu’. Siapakah Abu Lu’lu’? Ada tiga pendapat berbeda mengenai identitas Abu Lu’lu’ ini. Perbedaan pendapat ini berbarengan juga dengan perbedaan sikap atau perlakuan terhadap orang yang dikuburkan di tempat ini.
.
Pendapat pertama berasal dari orang-orang Syiah garis keras yang menyatakan bahwa Abu Lu’lu’ adalah pembunuh Khalifah Umar bin Khaththab. Menurut pendapat pertama ini. dia adalah orang Iran. Awalnya, dia adalah tawanan perang dalam kasus penaklukan Kerajaan Persia oleh tentara Muslim. Abu Lu’lu yang aslinya bernama Feiruz hampir saja dibunuh oleh Khalifah Umar gara-gara enggan masuk Islam. Akan tetapi, berkat protes keras Imam Ali, Abu Lu’lu’ terbebas dari pembunuhan. Ia ditebus oleh Imam Ali dan menjadi budak beliau. Saat menjadi budak itulah Abu Lu’lu’ masuk Islam dan menjadi pengikut setia Imam Ali.
.
Masih menurut versi kelompok Syiah garis keras, Abu Lu’lu kemudian mendengar kisah kematian Sayyidah Fathimah, istri Imam Ali, dan keterlibatan Umar dalam proses kematian beliau. Lalu, Abu Lu’lu’ melakukan pembunuhan atas Khalifah Umar sebagai bentuk balas dendam. Seterusnya, atas saran Imam Ali, Abu Lu’lu disuruh melarikan diri ke negeri asalnya, yaitu Iran (sumber:abulolo.persianblog.ir).
.
Sampai sekitar enam tahun yang lalu, kuburan Abu Lu’lu sering diziarahi oleh orang-orang Syiah garis keras itu. Jumlah mereka bisa dikatakan sangat minoritas. Jika makam-makam orang suci lainnya di Iran bisa dikunjungi sampai ratusan ribu orang per hari, maka makam Abu Lu’lu paling hanya diziarahi belasan orang saja per hari. Di hari-hari peringatan syahadah (hari wafat) dan wiladah (kelahiran) Sayyidah Fathimah, pengunjung kuburan ini menjadi banyak, sampai mencapai ratusan. Di hari-hari tersebut, mereka melaksanakan acara pelaknatan terhadap Khalifah Umar (dan Abu Bakar), serta mengucapkan terima kasih kepada ruh Abu Lu’lu yang telah melakukan tindakan ‘balas dendam’.
.
Pendapat bahwa Abu Lu’lu yang dimakamkan di Kashan itu adalah pembunuh Umar juga diterima oleh kelompok takfiri. Inilah pendapat versi kedua. Menurut kelompok takfiri, motif pembunuhan itu adalah dendam rasial Abu Lu’lu (mereka menyebutnya Abu Lu’lu’ah Majusi) sebagai orang Iran beragama Majusi terhadap Khalifah Umar yang merupakan orang Arab dan pemimpin Islam. Tentu saja, sebagaimana yang bisa kita baca di media-media sosial, kelompok takfiri menyebut perilaku sebagian kecil orang Syiah itu sebagai representasi seluruh orang Syiah. Takfiri menyebut isu Abu Lu’lu ini sebagai salah satu alasan untuk memerangi Syiah secara keseluruhan.
.
Pendapat dan sikap berbeda dikemukakan oleh mayoritas orang Syiah, termasuk para ulama besarnya. Menurut pendapat ketiga ini, Abu Lu’lu’ yang dimakamkan di Kashan bukanlah pembunuh Khalifah Umar. Sebagaimana yang disampaikan oleh Sekjen Majelis Internasional Taqrib Baynal Madzahib, Ayatullah Muhsin Araki, Abu Lu’lu yang dimakamkan di Kashan adalah seorang wali. Hanya saja, namanya memang secara kebetulan sama dengan nama pembunuh Khalifah Umar (sumber:taqrib.info). Kesamaan ini muncul karena keduanya memiliki anak perempuan bernama Lu’lu’.
.
Memang, kalau kita merujuk kepada kitab-kitab sejarah, sangatlah aneh mengaitkan makam Abu Lu’lu’ yang ada di Kashan dengan pembunuh Khalifah Umar. Sejarah Sunni mencatat, pembunuh Khalifah Umar adalah seorang yang bernama asli Hormozan. Setelah melakukan pembunuhan, ia ditangkap. Abdullah bin Umar sebagai waliyyud-dam (wali darah) ayahnya melakukan qishash atas Hormozan sebagai pembunuh Khalifah Umar (Tarikh Dimasyq, Jilid 38 halaman 68, tarikh Thabari, jilid 2 halaman 302, Tariksh Ya’qubi, Jilid 2 halaman 161). Sejarah bahkan mencatat, proses hukuman mati atas Hormozan sangat sadis, yaitu dimutilasi. Imam Ali disebut-sebut melancarkan protes keras atas cara hukuman mati seperti itu. Akan tetapi, Khalifah Utsman yang menggantikan Umar enggan menanggapi protes tersebut (Al-Khara`ij wal-Jara`ih, Jilid 1 halaman 213). Jadi, bagaimana mungkin jenazah pembunuh yang sudah ditangkap, bahkan dimutilasi, bisa sampai dibawa dari Madinah ke Kashan yang jaraknya hampir 4.000 kilometer?
.
Meskipun pemerintah Iran meyakini bahwa makam yang ada di Kashan itu bukanlah pembunuh Umar, akan tetapi, mengingat kemaslahatan ummat, pihak yang berwenang secara resmi telah menutup komplek pemakaman Abu Lu’lu sejak tahun 2008 yang lalu. Pengertian ditutup di sini adalah: makam tersebut tidak boleh lagi dimasuki orang untuk berziarah, apalagi sampai mengadakan acara-acara yang berisi pelaknatan kepada simbol-simbol yang dihormati Ahlu Sunnah, yaitu Khulafaur-Rasyidin dan para istri Nabi. Kini, kawasan yang tadinya merupakan makam Abu Lu’lu sudah berubah menjadi kawasan Kantor Polisi Wilayah Kashan.
.
Itulah yang dilakukan oleh pemerintah Iran yang bercorak Syiah. Demi persatuan ummat, mereka mengeluarkan fatwa larangan melaknat figur yang dimuliakan Ahlusunnah sebagaimana telah kami ulas dalam tanggapan ketiga. Kini, Liputan Islam ingin bertanya kepada Voa-Islam, siapakah big boss Anda yang membayar Anda untuk memecah belah persatuan kaum muslimin? CIA, atau Mossad? :D
.
Simak tanggapan selengkapnya di link berikut:
.
Bagian Pertama: http://liputanislam.com/…/menjawab-teguran-voa-islam-bagia…/
.
Bagian Kedua: http://liputanislam.com/…/menjawab-teguran-voa-islam-bagia…/
.
Bagian Ketiga: http://liputanislam.com/…/menjawab-teguran-voa-islam-bagia…/
.
Bagian Keempat: http://liputanislam.com/…/menjawab-teguran-voa-islam-bagia…/
.
[1] Dzahabi, Syamsuddin, Siyar A’lām al-Nubalā, jil. 2, hal. 416, Dar al-Hadits, Kairo, 1417 H; Mas’udi, Abu al-Hasan Ali bin al-Husain, Muruj al-Dzahab wa Ma’ādin al-Jauhar, Riset oleh Daghir, As’ad, jil. 2, hal. 320, Dar al-Hijrah, Qum, Cetakan Kedua, 1409 H.
[2] Maliqi Andalusi, Muhammad bin Yahya, al-Tamhid wa al-Bayān fi Maqtal al-Syahid Utsmān, Riset oleh Zaid, Mahmud Yusuf, hal. 36, Dar al-Tsaqafah, Doha, Cetakan Pertama, 1405 H; Thabari, Ahmad bin Abdullah, al-Riyādh al-Nadhrah fi Manāqib al-‘Asyrah, jil. 2, hal. 408, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, Cetakan Kedua, Tanpa Tahun; Ibnu Abdil Bar, Yusuf bin Abdullah, al-Isti’āb fi Ma’rifat al-Ashhāb, Riset oleh al-Bajawi, Ali Muhammad, jil. 3, hal. 1155, Dar al-Jail, Beirut, Cetakan Pertama, 1412 H.
[3] Muruj al-Dzahab wa Ma’ādin al-Jauhar, Riset oleh Daghir, As’ad, jil. 2, hal. 320; Ibnu Atsir Jarzi, Ali bin Muhammad, al-Kāmil fi al-Tārikh, jil. 3, hal. 49-50, Dar Shadir, Beirut, 1385 H; Ibnu Atsir A’tsam Kufi, Ahmad bin A’tsam, al-Futuh, Riset oleh Syiri, Ali, jil. 2, hal. 323-324, Dar al-Adhwa, Beirut, 1411 H; al-Tamhid wa al-Bayān fi Maqtal al-Syahid Utsmān hal. 36.
[4] Ibnu al-Thaq-thaqi, Muhammad bin Ali Thabathabai, al-Fakhri fi al-Adab al-Sulthāniyah wa al-Duwal al-Islamiyah, Riset oleh Muhammad Mayu, Abdul-Qadir, hal. 101, Dar al-Qalam al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Pertama, 1418 H.
[5] Dzahabi, Muhammad bin Ahmad, Tārikh al-Islām, Riset oleh Tadmiri, Umar Abdul-Salam, jil. 3, hal. 306-307, Dar al-Kutub al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1409 H; Ibnu Hibban Tamimi, Muhammad bin Hibban, al-Tsiqāt, jil. 2, hal. 240, Dairah al-Ma’arif al-Utsmaniyah, Haidar Abad, India, Cetakan Pertama, 1393 H; Ibnu Khaldun bin Muhammad, Diwān al-Mubtada wa al-Khabar fi Tārikh al-‘Arab wa Al-Barbar wa Man Ashārahum min Dzawi al-Sya’n al-Akbar (Tārikh Ibnu Khaldun), Riset oleh Khalil Syahadah, jil. 2, hal. 570, Beirut, Dar al-Fikr, Cetakan Kedua, 1408 H.
[6] Khand Miri, Ghiyats al-Din bin Hamam al-Din, Tārikh Habib al-Siyar, jil. 1, hal. 489, Khayyam, Tehran, Cetakan Keempat, 1380 S.
[7] Silahkan lihat, Ibnu Hajar Asqalani, Ahmad bin Ali, al-Ishābah fi Tamyiiz al-Shahābah, Riset oleh Abdul Maujud, Adil Ahmad, Muawwadh, Ali Muhammad, jil. 6, hal. 449, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, Cetakan Petama, 1415 H; Muqaddasi, Muthahhar bin Thahir, al-Badā’ wa al-Tārikh, jil. 5, hal. 92, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyah, Bur Sa’id, Tanpa Tahun; Muruj al-Dzahab wa Ma’ādin al-Jauhar, Riset oleh Daghir, As’ad, jil. 2, hal. 379.
[8] Silahkan lihat, Dāirah al-Ma’ārif Buzurgh Islami, Abu Lu’lu; Dānesynameh Tasyayyu’.
[9] Silahkan lihat, Muqaddasi, Muhammad bin Ahmad, Ahsan al-Taqāsim fi Ma’rifat al-Aqālim, Penj. Minzawi, Ali Naqi, jil. 1, hal. 65 (catatan kaki), Syarkat Muallifan wa Mutarjiman Iran, Tehran, Cetakan Pertama, 1361 S; Razi, Abu Ali Miskawaih, Tajārib al-Umam, Penj. Minzawi, Ali Naqi, jil. 6, hal. 229 (catatan kaki), Tehran, Thus, 1376 S.

https://syiahnews.wordpress.com/2015/05/27/benarkah-abu-luluah-dimakamkan-di-iran/

Rabu, 06 September 2017

Ghadir Khum

PERISTIWA GHADIR KHUM BERDASARKAN AL QUR'AN.

Salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam pada masa sebelum wafat Rasulullah SAAW adalah peristiwa Ghadir Khum. Peristiwa Ghadir Khum termasuk riwayat mutawatir.[1] Dalam hadits Ghadir Khum, setelah haji wada (haji terakhir), Rasulullah menghentikan perjalanan para sahabatnya yang sudah hampir pulang ke rumahnya masing-masing di suatu tempat yang bernama Khum (antara Makah dan Madinah). Sebelumnya, dalam perjalanan dari Makah ke Madinah, Jibril turun dan mangatakan ”Hai Rasul, sampaikanlah!”.  Rasulullah tidak langsung menyampaikan, melainkan mencari situasi dan waktu yang tepat untuk menyampaikan perintah Allah tersebut. Tidak lama kemudian Jibril turun kembali dan mengatakan,”Hai Rasul, sampaikanlah!” dan Rasulullah tetap belum menyampaikannya. Kemudian Jibril turun untuk ketiga kalinya dengan membawa ayat sebagai berikut :

Al Maaidah (QS5:67)

 يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Wahai Rasul, sampaikanlah (balligh) apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan maka engkau tidak menjalankan risalah-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir “

Apabila kita perhatikan bahasa Arab ayat di atas, Allah menggunakan kata balligh (sampaikan!), yang menunjukkan perintah Allah yang sifatnya memaksa. Apabila kita perhatikan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Qur’an sebanyak 30 juz, kita tidak akan menemukan perintah Allah lain yang sifatnya memaksa Rasulullah sebagaimana yang terdapat di dalam ayat ini. Hal ini tentunya menunjukkan betapa pentingnya perintah “penyampaian” dalam ayat tersebut. Oleh karena itu ayat ini juga disebut ayat tabligh.

Pentingnya hal yang perlu disampaikan tersebut juga tergambarkan pada bagian akhir ayat, di mana terdapat ancaman Allah jika Rasul tidak mengerjakan perintah tersebut. Dalam ancaman tersebut seolah-olah perjuangan Nabi selama 23 tahun tidak ada artinya, atau sia sia, jika tidak menyampaikan suatu “hal”. Penundaan penyampaian yang dilakukan oleh Rasulullah tentulah didasari oleh adanya kekhawatiran dalam pikiran Rasulullah mengenai kemampuan ummatnya untuk menerima dan menjalankan perintah yang disampaikannya. Oleh karenanya Rasulullah mencari strategi bagaimana agar tidak ada alasan bagi ummat untuk menolak. Ayat di atas juga menyebutkan bahwa Allah, selain memberikan perintah kepada Rasulullah untuk menyampaikan suatu “hal” tersebut, juga memberikan jaminan berupa penjagaan kepada Rasulullah atas gangguan manusia.

Dengan demikian, terdapat 3 hal penting pada ayat ini, yaitu:

Nabi diperintahkan untuk menyampaikan sesuatu hal yang penting
Allah menjaga Rasulullah dari gangguan manusia
Dampak dari orang-orang yang tidak menerima apa yang disampaikan oleh Rasulullah
Lalu bagaimanakan isi tafsir atas ayat tabligh di atas? Sebagaimana perbedaan penafsiran yang sering kali terjadi, sebagian kecil tafsir menyebutkan bahwa ayat tabligh tersebut turun di Madinah, yaitu ketika Rasulullah diperintahkan untuk menyampaikan ajaran Islam kepada orang-orang Yahudi. Apabila kita kritisi tafsir tersebut, perlu kita ingat bahwa Rasulullah semenjak hijrah dari kota Mekkah, telah tinggal selama 10 tahun di kota Madinah. Selama Rasulullah berada di Madinah tersebut, bukankah sudah ada orang orang Yahudi? Lalu kenapa baru sekarang Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan Islam kepada mereka? Kenapa pada saat-saat terakhir sebelum Rasullah meninggal, barulah Allah mengancam Rasulullah untuk menyampaikan Islam kepada Yahudi? Berdasarkan logika dan pemahaman kita tentang sejarah Islam, tentulah kita dapat menilai bahwa tafsir ini tidak tepat dan sama sekali tidak berdasar.

Kembali kepada peristiwa Ghadir Khum. Setelah Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk berhenti, kemudian Rasulullah memerintahkan menumpuk batu untuk menjadi sebuah mimbar. Kemudian Rasulullah naik ke atas mimbar tersebut dan memberikan ceramah kepada 120 ribu sahabat. Jumlah pendengar yang sangat banyak inilah yang menyebabkan riwayat ini bukan hanya shoheh, tetapi mutawatir. Dalam ceramahnya Rasulullah dengan sangat terperinci menjelaskan kepemimpinan setelah beliau. Beliau mengatakan “Man kuntu maula fa Aliyyun maula (Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya setelah aku).”

Mengenai perkataan Rasulullah tersebut, ada kelompok yang mengatakan bahwa yang dikatakan Rasulullah adalah “Siapa yang menjadikan aku sebagai kekasihnya maka menjadikan Ali sebagai kekasihnya.” Bila kita kritisi pendapat tersebut, tentulah kita akan menganggap bahwa adalah suatu kesia-siaan bahwa Rasulullah mengumpulkan 120 ribu sahabatnya hanya untuk mengatakan “cintailah Ali”.  Kata “Maula” sendiri bukanlah berarti kekasih, melainkan “pemimpin”. Selain itu, dalam penyampaiannya, Rasulullah bukan hanya mengangkat tangan Imam Ali, tetapi juga memindahkan sorbannya ke kepala Ali. Hal ini didasari pada kedudukan Sorban sebagai lambang kepemimpinan, sehingga ummat yang bisu dan tuli, yang tidak dapat mendengar ceramah Rasulullah, dapat memahami maksud yang ingin disampaikan Rasulullah dengan isyarat tersebut.
Oleh : Syiar.net

Selasa, 05 September 2017

amalan alghadir

*Amalan Lengkap Hari Raya Idul Ghadir*

*18 bulan Dzulhijjah* merupakan hari istimewa bagi Umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya, tanggal 18 Dzulhijjah adalah hari raya besar hariGhadir Khum, Ied al-Akbar (hari raya besar), hari raya keluarga Muhammad Saw, Allah SWT tidak mengutus seorang nabi kecuali merayakan hari raya ini dan menjaga kehormatannya. Nama hari ini di langit adalah Yaumu al-Ahdu al-Mau’ud(hari yang dijanjikan) dan di bumi Yaumu al-Mitsaqal-Ma’khudz (hari perjanjian) dan al-Jam’u al-Masyhud(hari perkumpulan).

Dalam salah satu riwayat diceritakan bahwasanya mereka bertanya kepada Imam Shadiq as: apakah kaum muslimin mempunyai hari raya selain hari Jum’at, hari raya Fitri dan Adha? beliau menjawab:”Iya, yaitu hari raya yang kehormatannya melebihi seluruh hari raya”, perawi mengatakan:  Hari raya apa itu? beliau menjawab: “Hari itu adalah hari dimana Rasulullah SAW menobatkan Amirul Mukminin as sebagai khalifahnya dan bersabda: “barang siapa yang menganggap aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya”, hari itu adalah hari kedelapan belas bulan Zulhijjah“. Perawi bertanya lagi: apa yang harus dikerjakan di hari itu? Beliau menjawab: ”berpuasa, beribadah, menyebut-nyebut Muhammad dan keluarganya dan bershalawatlah atas mereka”. Rasulullah SAWW telah berwasiat kepada Amiril Mukminin as untuk merayakan hari raya ini, begitu juga setiap nabi berwasiat kepada washinya supaya merayakan hari ini.

Allah swt Berfirman dalam Kitab-Nya:

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu." [Ali Imran:81]

وَإِذْ أَخَذَ اللَّـهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ ﴿آل عمران: ٨١﴾

18 bulan Dzulhijjah merupakan hari istimewa bagi Umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya, tanggal 18 Dzulhijjah adalah hari raya besar hariGhadir Khum, Ied al-Akbar (hari raya besar), hari raya keluarga Muhammad Saw, Allah SWT tidak mengutus seorang nabi kecuali merayakan hari raya ini dan menjaga kehormatannya. Nama hari ini di langit adalah Yaumu al-Ahdu al-Mau’ud(hari yang dijanjikan) dan di bumi Yaumu al-Mitsaqal-Ma’khudz (hari perjanjian) dan al-Jam’u al-Masyhud(hari perkumpulan).

Dalam salah satu riwayat diceritakan bahwasanya mereka bertanya kepada Imam Shadiq as: apakah kaum muslimin mempunyai hari raya selain hari Jum’at, hari raya Fitri dan Adha? beliau menjawab:”Iya, yaitu hari raya yang kehormatannya melebihi seluruh hari raya”, perawi mengatakan:  Hari raya apa itu? beliau menjawab: “Hari itu adalah hari dimana Rasulullah SAW menobatkan Amirul Mukminin as sebagai khalifahnya dan bersabda: “barang siapa yang menganggap aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya”, hari itu adalah hari kedelapan belas bulan Zulhijjah“. Perawi bertanya lagi: apa yang harus dikerjakan di hari itu? Beliau menjawab: ”berpuasa, beribadah, menyebut-nyebut Muhammad dan keluarganya dan bershalawatlah atas mereka”. Rasulullah SAWW telah berwasiat kepada Amiril Mukminin as untuk merayakan hari raya ini, begitu juga setiap nabi berwasiat kepada washinya supaya merayakan hari ini.

Dalam hadis Ibn Abi Nashr Bazanthi yang diriwayatkan dari Imam Ridha as, beliau bersabda: ”Hai anak Abi Nashr, dimana saja engkau berada usahakanlah dihari raya Ghadiruntuk hadir di pusara suci Amirul Mukminin as, sebab Allah SWT pada hari ini akan mengampuni dosa seorang mukmin dan mukminah yang telah dilakukan selama enam puluh tahun dan akan dibebaskan dari api neraka dua kali lipatnya dari bulan Ramadan, malam lailatul Qodr dan malam hari raya Fitri, satu Dirham yang disodaqohkan dihari ini kepada saudara-saudara mukminnya sama dengan seribu Dirham yang engkau berikan di waktu-waktu lain, berbuat baiklah kepada mereka dan gembirakan setiap mukmin dan mukminah, aku bersumpah seandainya orang-orang tahu tentang keutamaan hari ini niscaya Malaikat akan berjabat tangan dengan mereka sepuluh kali jabatan dalam satu hari. Jadi, menghormati hari yang mulya ini adalah suatu keharusan, dan amalan-amalanya adalah :

*1. Puasa,* kafarah dari dosa enam puluh tahun. Dalam satu hadis dikatakan bahwa puasa ini menyamai makanan dunia dan sama dengan seratus kali haji dan seratus umroh.

*2. Mandi.*

*3. Ziarah Amirul Mukminin as,* dan selayaknya bagi manusia dimana saja berada untuk hadir di makan suci beliau dan membaca tiga ziarah khusus untuknya, salah satunya adalah ziarah Aminullahyang bisa dibaca dari jarak dekat ataupun jauh, dan termasuk pula darinya adalah ziarah Jâmi’ah Kabîrohyang akan dating nanti.

*4. membaca Ta’widz (doa perlindungan)* yang diriwayatkan oleh Sayyid Thawus dalam buku al-Iqbaldari Rasulullah SAWW.

*5. Shalat dua rakaat* dengan seratus kali syukur ketika sujud dan selepas sujud membaca :

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ وَ أَنَّكَ وَاحِدٌ أَحَدٌ صَمَدٌ لَمْ تَلِدْ وَ لَمْ تُوْلَدْ وَ لَمْ يَكُنْ

Ya Allah aku memohon kepadamu dengan pujian yang khusus untukmu, tiada sekutu bagimu dan sesungguhnya engkau satu, esa, Maha kaya, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tiada yang

لَكَ كُفُوًا أَحَدٌ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَ رَسُوْلُكَ صَلَوَاتُكَ عَلَيْهِ وَ آلِهِ، يَا مَنْ هُوَ كُلَّ يَوْمٍ فِيْ شَأْنٍ كَمَا كَانَ مِنْ

Sebanding denganmu, sesungguhnya Mohammad hambamu dan utusanmu, shalawat atas beliau dan keluarganya. Wahai Zat yang setiap hari tidak lepas dari urusan, termasuk dari

شَأْنِكَ أَنْ تَفَضَّلْتَ عَلَيَّ بِأَنْ جَعَلْتَنِيْ مِنْ أَهْلِ إِجَابَتِكَ وَ أَهْلِ دِيْنِكَ وَ أَهْلِ دَعْوَتِكَ وَ وَفَّقْتَنِيْ لِذَلِكَ فِيْ مُبْتَدَإِ

Urusannmu adalah menjadikan aku orang yang pantas mendapat ijabahmu, Ahli agamamu dan layak mendapat panggilanmu, dan berilah aku taufik untuk itu diawal

خَلْقِي تَفَضُّلاً مِنْكَ وَ كَرَمًا وَ جُوْدًا، ثُمَّ أَرْدَفْتَ الْفَضْلَ فَضْلاً وَ الْجُوْدَ جُوْدًا وَ الْكَرَمَ كَرَمًا رَأْفَةً مِنْكَ وَ

Penciptaannku sebagai anugerah, karamah dan kedermawaanmu. Kemudian kau susul setiap anugerah dengan anugerah yang lain, setiap kemurahan dengan kemurahan dan setiap kemulyaan dengan kemulyaan lain sebagai belas kasih darimu dan

رَحْمَةً إِلَى أَنْ جَدَّدْتَ ذَلِكَ الْعَهْدَ لِيْ تَجْدِيْدًا بَعْدَ تَجْدِيْدِكَ خَلْقِيْ وَ كُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا نَاسِيًا سَاهِيًا غَافِلاً،

Rahmat sampai engkau perbaharui janji itu kepadaku setelah engkau ciptakan aku sementara aku lupa dan lalai (terhadap nikmat-nimatmu)

فَأَتْمَمْتَ نِعْمَتَكَ بِأَنْ ذَكَّرْتَنِيْ ذَلِكَ وَ مَنَنْتَ بِهِ عَلَيَّ وَ هَدَيْتَنِيْ لَهُ، فَلْيَكُنْ مِنْ شَأْنِكَ يَا إِلَهِيْ وَ سَيِّدِيْ وَ

Kemudian engkau sempurnakan nikmatmu dengan mengingatkan aku kepadanya dan mencurahkan nikmat itu kepadaku serta menunjukkan aku kepadanya. Ya Ilahi,tuanku dan

مَوْلاَيَ أَنْ تُتِمَّ لِيْ ذَلِكَ وَ لاَ تَسْلُبَنِيْهِ حَتَّى تَتَوَفَّانِيْ عَلَى ذَلِكَ وَ أَنْتَ عَنِّيْ رَاضٍ، فَإِنَّكَ أَحَقُّ الْمُنْعِمِيْنَ أَنْ

Maulaku, aku meminta kepadamu untuk menyempurnakan nikmat (iman) itu kepadaku, dan jangan ambil dariku sampai engkau cabut nyawaku dan rela kepadaku, sesungguhnya engkau pemberi nikmat yang paling berhak untuk

تُتِمَّ نِعْمَتَكَ عَلَيَّ، اَللَّهُمَّ سَمِعْنَا وَ أَطَعْنَا وَ أَجَبْنَا دَاعِيَكَ بِمَنِّكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَ إِلَيْكَ الْمَصِيْرُ آمَنَّا

Menyempurnakan nikmatmu kepadaku. Ya Allah kami mendengar (perintahmu), taat dan menerima ajakan rasulmu yang menyeru kepadamu dengan anugerahmu, segala puji untukmu, ampunilah Ya Allah, hanya kepadamu kami kembali. Kami beriman

بِاللَّهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ بِرَسُوْلِهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ صَدَّقْنَا وَ أَجَبْنَا دَاعِيَ اللَّهِ وَ اتَّبَعْنَا

Kepada Allah yang Maha esa yang tiada sekutu bagi-Nya, kami beriman kepada rasul-Nya Mohammad SAWW, kami percaya serta menyambutnya dan mengikuti

الرَّسُوْلَ فِيْ مُوَالاَةِ مَوْلاَنَا وَ مَوْلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ عَبْدِ اللَّهِ وَ أَخِيْ رَسُوْلِهِ

Rasul dalam mencintai pemimpin kami dan pemimpin kaum mu’minin, Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib hamba Allah, saudara rasul-Nya,

وَ الصِّدِّيْقِ الْأَكْبَرِ وَ الْحُجَّةِ عَلَى بَرِيَّتِهِ الْمُؤَيِّدِ بِهِ نَبِيَّهُ وَ دِيْنَهُ الْحَقَّ الْمُبِيْنَ عَلَمًا لِدِيْنِ اللَّهِ وَ خَازِنًا لِعِلْمِهِ

Shiddiq al-Akbar (orang terpercaya), hujjah Allah atas manusia yang keberadaannya telah diakui oleh nabi dan agama-Nya yang benar, panji agama Allah , gudang ilmu-Nya,

وَ عَيْبَةَ غَيْبِ اللَّهِ وَ مَوْضِعَ سِرِّ اللَّهِ وَ أَمِيْنَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ وَ شَاهِدَهُ فِيْ بَرِيَّتِهِ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا

Peti rahasia-rahasia Ilahi, kepercayan Allah atas ciptaan-Nya dan saksi kebenaran atas manusia. Ya Allah ya tuhan kami sesungguhnya kami telah mendengar

مُنَادِيًا يُنَادِيْ لِلْإِيْمَانِ أَنْ آمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ كَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ،

Dan menerima seruan rasul yang menagajak beriman kepadamu, ya tuhan kami ampunilah dosa-dosa kami, tutuplah kejelekan-kejelekan kami dan matikanlah kami bersama orang-orang baik

رَبَّنَا وَ آتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَ لاَ تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ، فَإِنَّا يَا رَبَّنَا بِمَنِّكَ وَ لُطْفِكَ

Ya tuhan kami berilah kepada kami apa yang telah engkau janjikan dan jangan kami sedihkan di hari kiyamat, sesunguhnya engkau tidak akan mengingkari janji. Ya tuhan kami sesungguhnya kami dengan anugerah dan lutuf mu

أَجَبْنَا دَاعِيَكَ وَ اتَّبَعْنَا الرَّسُوْلَ وَ صَدَّقْنَاهُ وَ صَدَّقْنَا مَوْلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَ كَفَرْنَا بِالْجِبْتِ وَ الطَّاغُوْتِ، فَوَلِّنَا مَا

Telah menerima utusanmu, mengikuti rasul, mempercayai pemimpin kaum mu’minin dan mengkafirkan taghut , maka jagalah iman dan wilayah kami

تَوَلَّيْنَا وَ احْشُرْنَا مَعَ أَئِمَّتِنَا، فَإِنَّا بِهِمْ مُؤْمِنُوْنَ مُوْقِنُوْنَ وَ لَهُمْ مُسَلِّمُوْنَ، آمَنَّا بِسِرِّهِمْ وَ عَلاَنِيَتِهِمْ وَ شَاهِدِهِمْ

kumpulkan kami bersama Imam-imam kami, sesungguhnya kami mengimani dan meyakini mereka, tunduk kepada mereka, beriman kepada lahir, batin, kehadiran

وَ غَائِبِهِمْ وَ حَيِّهِمْ وَ مَيِّتِهِمْ وَ رَضِيْنَا بِهِمْ أَئِمَّةً وَ قَادَةً وَ سَادَةً وَ حَسْبُنَا بِهِمْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ اللَّهِ دُوْنَ خَلْقِهِ لاَ

keghaiban, kematin dan kehidupan mereka, dan kami merelakan mereka sebagai Imam, pemimpin dan tuan, dan cukuplah mereka bagi kami sebagai perantara menuju Allah tanpa mahkluk yang lain,

نَبْتَغِيْ بِهِمْ بَدَلاً وَ لاَ نَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهِمْ وَلِيْجَةٍ وَ بَرِئْنَا إِلَى اللَّهِ مِنْ كُلِّ مَنْ نَصَبَ لَهُمْ حَرْبًا مِنَ الْجِنِّ وَ

Kami tidak menginginkan ganti mereka, kami tidak akan menjadikan kawan selain mereka, kami mensucikan diri dihadapan Allah dari musuh mereka dari jin dan

الْإِنْسِ مِنَ الْأَوَّلِيْنَ وَ الْآخِرِيْنَ وَ كَفَرْنَا بِالْجِبْتِ وَ الطَّاغُوْتِ وَ الْأَوْثَانِ الْأَرْبَعَةِ وَ أَشْيَاعِهِمْ وَ أَتْبَاعِهِمْ وَ كُلِّ

Manusia dari awal sampai akhir, kami mengkafirkan taghut (musuh-musuh mereka) , penyembah empat berhala, pengikut mereka dan semua

مَنْ وَالاَهُمْ مِنَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ مِنْ أَوَّلِ الدَّهْرِ إِلَى آخِرِهِ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نُشْهِدُكَ أَنَّا نَدِيْنُ بِمَا دَانَ بِهِ مُحَمَّدٌ وَ آلُ

Yang mencintai mereka dari jin dan manusia dari awal sampai akhir. Ya Allah sesungguhnya kami bersaksi kepadamu bahwasanya kami menganut agama yang dianut oleh Mohammad dan keluarga

مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ عَلَيْهِمْ، وَ قَوْلُنَا مَا قَالُوْا، وَ دِيْنُنَا مَا دَانُوْا بِهِ، مَا قَالُوْا بِهِ قُلْنَا، وَ مَا دَانُوْا بِهِ دِنَّا،

Mohammad SAWW, slogan kami adalah slogan mereka, agama kami adalah agama yang dianut mereka, apa yang diyakini mereka juga kami yakini, apa yang dianut mereka juga kami anut,

وَ مَا أَنْكَرُوْا أَنْكَرْنَا، وَ مَنْ وَالَوْا وَالَيْنَا، وَ مَنْ عَادَوْا عَادَيْنَا، وَ مَنْ لَعَنُوْا لَعَنَّا، وَ مَنْ تَبَرَّؤُوْا مِنْهُ تَبَرَّأْنَا مِنْهُ، وَ

Apa yang mereka ingkari juga kami ingkari, apa yang mereka cintai kami jugacintai, apa yang mereka musuhi juga kami musuhi, orang yang dilaknat mereka juga kami laknat, orang yang ditingalkan mereka juga kami tingalkan dan

مَنْ تَرَحَّمُوْا عَلَيْهِ تَرَحَّمْنَا عَلَيْهِ، آمَنَّا وَ سَلَّمْنَا وَ رَضِيْنَا وَ اتَّبَعْنَا مَوَالِيَنَا صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ، اَللَّهُمَّ فَتَمِّمْ لَنَا

Orang yang dikasihani mereka juga kami kasihani. Kami beriman, tunduk, rela dan mengikuti para pemimpin kami (salawat Allah atas mereka), maka sempurnakan bagi kami

ذَلِكَ وَ لاَ تَسْلُبْنَاهُ وَ اجْعَلْهُ مُسْتَقِرًّا ثَابِتًا عِنْدَنَا وَ لاَ تَجْعَلْهُ مُسْتَعَارًا، وَ أَحْيِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا عَلَيْهِ وَ أَمِتْنَا إِذَا

Nikmat iman ini, jangan ambil hal itu dari kami, tetapkanlah disisi kami dan jangan jadikan barang sewaan, hidupkan kami dengan ini (iman), matikanlah kami

أَمَتَّنَا عَلَيْهِ، آلُ مُحَمَّدٍ أَئِمَّتُنَا، فَبِهِمْ نَأْتَمُّ وَ إِيَّاهُمْ نُوَالِيْ، وَ عَدُوَّهُمْ عَدُوَّ اللَّهِ نُعَادِيْ، فَاجْعَلْنَا مَعَهُمْ فِي الدُّنْيَا

Dengan ini pula. Kelurga Mohammad adalah imam-imam kami, kepada mereka kami bermakmum, kepada mereka kami berwilayah, kami membenci musuh mereka yaitu musuh Allah, jadikan kami bersama mereka di dunia

وَ الْآخِرَةِ وَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ، فَإِنَّا بِذَلِكَ رَاضُوْنَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

dan Akhirat dan termasuk orang-orang yang dekat kepadamu, sesungguhnya kami rela dengan nikmat itu hai Zat yang Maha penyayang.

Kemudian sujud sambil membaca al-Hamdu lillâhi(segala puji bagi Allah) seratus kali danSyukron lillâhi‏(syukur kepada Allah) seratus kali. Diceritakan dalam suatu riwayat bahwa sesungguhnya orang yang melakukan amalan ini , pahalanya seperti orang yang hadir disisi Rasulullah saw dan berbaiat dengan beliau atas wilayah. Lebih baik shalat ini dilakukan menjelang tergelincirnya matahari ke barat (Zawal) dimana Rasulullah saw disaat ini menobat Amirul Mukminin as di Ghadir Khum sebagi imam dan khalifah umat manusia. Pada rakaat pertama membaca surat al-Qadrdan dirakaat kedua al-Tauhid.

*6. Mandi dan shalat dua rakaat* setengah jam sebelum Zawal, dirakaat pertama membaca Fatihah satu kali, Qulhuwallâhu Ahadsepuluh kali, ayat Kursi sepuluh kali dan Innâ Anzalnâhu Fîlailatil Qodrsepuluh kali, pahalanya seperti seratus ribu haji dan seratus ribu umroh dan Allah swt akan memenuhi kebutuhan dunia-akhiratnya dengan mudah dan selamat. Dalam buku al-Iqbal disebutkan bahwa dalam shalat ini surat al-Qodr dibaca sebelum ayat Kursi. Allamah Majlisi dalam buku Zâdu al-Ma’âd mengikuti al-Iqbal dan mendahulukan surat al-Qadr,sebagaimana aku juga dalam buku-buku yang lain melakukan hal ini. Namun, sejauh yang saya pelajari ternyata ayat kursi lebih banyak didahulukan dari surat al-Qadr, adanya kemungkinan lupa dari Sayyid Ibn Thawus atau yang lain berkenaan dengan bilangan al-Hamdu (fatihah) dan didahulukannya al-Qadr atas ayat Kursi sangat kecil sekali (Allah yang lebih tahu). Setelah shalat ini lebih baik membaca doa berikut : Rabbânâ Innanâ sami’nâ Munâdiyan (Ya tuhan kami Sesungguhnya kami mendengar seruan nabimu) dst.

*7. Membaca doa Nudbah*

*8. Membaca doa* dibawah ini yang Sayyid Ibn Thawus menukil dari Syaikh Mufid :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ

Ya Allah sesunguhnya kami memohon kepadamu dengan perantara Mohammad nabimu

وَ عَلِيٍّ وَلِيِّكَ وَ الشَّأْنِ وَ الْقَدْرِ الَّذِيْ خَصَصْتَهُمَا بِهِ دُوْنَ خَلْقِكَ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلِيٍّ وَ أَنْ تَبْدَأَ

Dan Ali walimu dan Sya’n, Qodr yang engkau khususkan kepada mereka berdua tanpa makhlukmuyang lain, limpahkanlah shalawat kepada Mohammmad dan Ali, mulailah

بِهِمَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ عَاجِلٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ الْأَئِمَّةِ الْقَادَةِ وَ الدُّعَاةِ السَّادَةِ وَ النُّجُوْمِ

Setiap kabaikan yang akan datang dari mereka, Ya Allah curahkan shalawat atas Mohammad dan kelurga Mohammad yaitu imam-imam, para pemimpin, para dai, para tuan, bintang-bintang

الزَّاهِرَةِ وَ الْأَعْلاَمِ الْبَاهِرَةِ وَ سَاسَةِ الْعِبَادِ وَ أَرْكَانِ الْبِلاَدِ وَ النَّاقَةِ الْمُرْسَلَةِ وَ السَّفِيْنَةِ النَّاجِيَةِ الْجَارِيَةِ فِي

Yang cemerlang, tanda-tanda kebenaran yang jelas, pemimpin para hamba, tiang-tiang Negara (dan kota Tauhid), delegasi, bahtera penyelamat yang berlayar ditengah

اللُّجَجِ الْغَامِرَةِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ خُزَّانِ عِلْمِكَ وَ أَرْكَانِ تَوْحِيْدِكَ وَ دَعَائِمِ دِيْنِكَ وَ مَعَادِنِ

Lautan (pengetahuan dan mafrifah tuhan). Ya Allah limpahkan shalawat atas Mohammad dan kelurganya yang merupakan gudang ilmumu, rukun-rukun tauhidmu, tiang-tiang agamamu, tambang-tambang

كَرَامَتِكَ وَ صِفْوَتِكَ مِنْ بَرِيَّتِكَ وَ خِيَرَتِكَ مِنْ خَلْقِكَ الْأَتْقِيَاءِ الْأَنْقِيَاءِ النُّجَبَاءِ الْأَبْرَارِ وَ الْبَابِ الْمُبْتَلَى بِهِ

Karomahmu, pilihanmu diantara makhlukmu yang bertakwa, suci , mulya, dan pintu masuk

النَّاسُ، مَنْ أَتَاهُ نَجَا وَ مَنْ أَبَاهُ هَوَى، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ أَهْلِ الذِّكْرِ الَّذِيْنَ أَمَرْتَ بِمَسْأَلَتِهِمْ

Manusia, barang siapa yang mendatanginya pasti selamat dan yang menjauhinya pasti sesat, Ya Allah curahkan shalawat atas Mohammad dan kelurganya, Ahli Dzikr yang engkau telah perintahkan untuk bertanya tentang (ilmu-ilmu samawi) kepada mereka

وَ ذَوِي الْقُرْبَى الَّذِيْنَ أَمَرْتَ بِمَوَدَّتِهِمْ وَ فَرَضْتَ حَقَّهُمْ وَ جَعَلْتَ الْجَنَّةَ مَعَادَ مَنِ اقْتَصَّ آثَارَهُمْ، اَللَّهُمَّ صَلِّ

Dzawi al-Qurba yang engkau perintahkan untuk mencintai mereka, menunaikan hak mereka dan jadikan surga tempat kembali orang yang mengikuti jejak mereka. Ya Allah curahkanlah shalawat

عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا أَمَرُوْا بِطَاعَتِكَ وَ نَهَوْا عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَ دَلُّوْا عِبَادَكَ عَلَى وَحْدَانِيَّتِكَ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ

Atas Mohammad dan keluarganya sebagaimana mereka perintahkan untuk mentaatimu dan meninggalkan ma’siatmu dan mereka tunjukkan hamba-hambamu kepada keesaanmu. Ya Allah aku

أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ وَ نَجِيْبِكَ وَ صِفْوَتِكَ وَ أَمِيْنِكَ وَ رَسُوْلِكَ إِلَى خَلْقِكَ وَ بِحَقِّ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ

Memohon kepadamu dengan perantara Mohammad Nabimu, junjunganmu, pilihanmu, kepercayaanmu(dalam membawa wahyu) dan utusanmu buat makhlukmu, dan juga dengan perantara Amiril mu’minin,

يَعْسُوْبِ الدِّيْنِ وَ قَائِدِ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِيْنَ الْوَصِيِّ الْوَفِيِّ وَ الصِّدِّيْقِ الْأَكْبَرِ وَ الْفَارُوْقِ بَيْنَ الْحَقِّ وَ الْبَاطِلِ وَ

Pemimpin agama, tuan orang-orang baik, wasi setia, orang yang terpercaya, pemisah antara hak dan batil,

الشَّاهِدِ لَكَ وَ الدَّالِّ عَلَيْكَ وَ الصَّادِعِ بِأَمْرِكَ وَ الْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِكَ لَمْ تَأْخُذْهُ فِيْكَ لَوْمَةُ لاَئِمٍ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى

Saksi (wakil) mu, petunjuk untuk sampai kepadamu, penyampai perintahmu, pejuang dijalanmu yang tidak takut terhadap celaan apapun. Curahkan shalawat kepada

مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ أَنْ تَجْعَلَنِيْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الَّذِيْ عَقَدْتَ فِيْهِ لِوَلِيِّكَ الْعَهْدَ فِيْ أَعْنَاقِ خَلْقِكَ وَ أَكْمَلْتَ لَهُمُ

Mohammad dan keluarganya, jadikan aku dihari ini (hari raya Ghadir), hari yang engkau ikat wilayah Ali as dileher hamba-hambamu , kemudian engkau sempurnakan agama untuk mereka,

الدِّيْنَ مِنَ الْعَارِفِيْنَ بِحُرْمَتِهِ وَ الْمُقِرِّيْنَ بِفَضْلِهِ مِنْ عُتَقَائِكَ وَ طُلَقَائِكَ مِنَ النَّارِ، وَ لاَ تُشْمِتْ بِيْ حَاسِدِيْ

Dari orang-arang arif terhadap kehormatanya dan keutamaannya,yaitu orang-orang yang jauh dari api nereka. Dan jagalah diriku dari celaan penghasud

النِّعَمِ، اَللَّهُمَّ فَكَمَا جَعَلْتَهُ عِيْدَكَ الْأَكْبَرَ وَ سَمَّيْتَهُ فِي السَّمَاءِ يَوْمَ الْعَهْدِ الْمَعْهُوْدِ وَ فِي الْأَرْضِ يَوْمَ الْمِيْثَاقِ

Nikmatmu. Ya Allah sebagaimana engkau jadikan hari ini hari rayamu yang paling besar dan engkau beri nama dilangit dengan “Yaum al-Ahd al-Ma’hud” (hari perjanjian yang dijanjikan) dan dibumi dengan “Yaum al-Mitsaq “ (hari perjanjian)

الْمَأْخُوْذِ وَ الْجَمْعِ الْمَسْؤُوْلِ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ أَقْرِرْ بِهِ عُيُوْنَنَا وَ اجْمَعْ بِهِ شَمْلَنَا وَ لاَ تُضِلَّنَا

Dan hari pertanyaan, maka limpahkanlah shalawat atas Mohammad dan keluarganya, terangi mata-mata kami dengan keindahan mereka, satukan kami, jangan sesatkan kami

بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَ اجْعَلْنَا لِأَنْعُمِكَ مِنَ الشَّاكِرِيْنَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَرَّفَنَا فَضْلَ هَذَا الْيَوْمِ وَ

Setelah engkau beri petunjuk, jadikanlah kami dari orang-orang yang bersyukur terhadap nikmat-nikmatmu wahai Zat yang Maha penyayang. Segala puji bagi Allah yang telah mengenalkan kepada kami keutamaan hari ini,

بَصَّرَنَا حُرْمَتَهُ وَ كَرَّمَنَا بِهِ وَ شَرَّفَنَا بِمَعْرِفَتِهِ وَ هَدَانَا بِنُوْرِهِ، يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْكُمَا وَ

mengajarkan kehormatannya kepada kami, mengangkat derajat kami dengannya, memberi ma’rifatnya kepada kami, menunjukkan kami dengan cahanya. Ya Rasulallah, Ya Amiral mu’minin kepada kalian berdua dan

عَلَى عِتْرَتِكُمَا وَ عَلَى مُحِبِّيْكُمَا مِنِّيْ أَفْضَلُ السَّلاَمُ مَا بَقِيَ اللَّيْلُ وَ النَّهَارُ، وَ بِكُمَا أَتَوَجَّهُ إِلَى اللَّهِ رَبِّيْ وَ

keluargamu serta pecintamu sebaik-baik salam dariku sepanjang malan dan siang, dan dengan perantara kalian aku mengahadap kepada Allah (tuhanku)dan

رَبِّكُمَا فِيْ نَجَاحِ طَلِبَتِيْ وَ قَضَاءِ حَوَائِجِيْ وَ تَيْسِيْرِ أُمُوْرِيْ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ أَنْ

Tuhan kalian demi keberhasilan permintaanku, hajat-hajatku dan kemudahan urusanku. Ya Allah aku berdoa kepadamu dengan perantara Mohammad dan keluarganya,

تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ أَنْ تَلْعَنَ مَنْ جَحَدَ حَقَّ هَذَا الْيَوْمِ وَ أَنْكَرَ حُرْمَتَهُ، فَصَدَّ عَنْ سَبِيْلِكَ

Curahkan shalawat kepada Mohammad dan keluarganya,jauhkanlah dari rahmat-Mu orang yang menetang hak hari ini, mengikari kehormatannya, lalu menutup jalan(agama)-Mu

لِإِطْفَاءِ نُوْرِكَ، فَأَبَى اللَّهُ إِلاَّ أَنْ يُتِمَّ نُوْرَهُ، اَللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أَهْلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ وَ اكْشِفْ عَنْهُمْ وَ بِهِمْ عَنِ

Guna memadamkan sinarmum, namun Allah tidak menginginkan kecuali memancarkan sinar wahyu dan cahaya hujjah-Nya. Ya Allah lapangkanlah keluarga Mohammad, nabimu dan singkaplah bagi mereka

الْمُؤْمِنِيْنَ الْكُرُبَاتِ، اَللَّهُمَّ امْلَأِ الْأَرْضَ بِهِمْ عَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَ جَوْرًا وَ أَنْجِزْ لَهُمْ مَا وَعَدْتَهُمْ، إِنَّكَ لاَ

Dan orang-orang mu’min semua kejenuhan dan kesulitan, Ya Allah isilah bumi ini dengan keadilan atas berkat mereka sebagaimana telah dipenuhi dengan kezaliman, dan tepatilah janji (kekuasanIlahi) yang telah engkau janjikan kepada mereka, sesunguhnya engkau tidak

تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

akan mengingkari janji.

Jika anda mampu, bacalah doa yang diriwayatkan oleh Sayyid Ibn Thawus dalam Buku al-Iqbal.

Diterjemahkan dari : Mafatihul Jinan Syaikh Abbas Qummi

http://id.abna24.com/cultural/shia/archive/2016/09/19/779975/story.html

Jumat, 01 September 2017

Abu Fadhol Abbas

PURNAMA BANI HASYIM

Pada 4 Sya’ban 26 H, Imam Ali as mendapatkan seorang putra lagi yang juga kelak menjadi tumpuan keluarga Nabi. Itulah Abul Fadhl Abbas, sang Purnama Bani Hasyim, dari rahimnya Ummul Banin. Seolah telah ditakdirkan untuk selalu menjadi pendamping al-Husain. Bayangkan, ia dilahirkan pada bulan yang sama, dengan tangal yang hanya berbeda satu hari dari Imam Husain, dan wafatnya pada tanggal yang sama dengan al-Husain di tempat yang sama pula. Abul Fadhl Abbas, adalah simbol pendamping setia Sayidus Syuhada.

Ketika Imam Ali diberitahukan tentang kelahiran putra Ummul Banin ini, beliau segera kembali ke rumahnya dan diliputi rasa gembira. Ia mendekap sang bayi, mengumandangkan azan dan ikamah di telinganya. Sebagai ungkapan rasa syukurnya, dan keberkahan kelahiran putranya, Imam Ali memberikan sedekah kepada kaum papa. Tak bosan Imam Ali memandangi wajah sang bayi. Ia melihat jiwa tangguh pemberani dan semangat yang utuh pada diri putranya ini. Abbas itulah nama yang pantas, pikirnya.

Abbas artinya singa, yang membuat takut setiap orang yang menghadapinya. Ayahnya juga adalah singa (Haidar) yang membuat gentar setiap lawan-lawanya. Ia mendapatkan kemuliaan di asuh oleh tiga imam, Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, dan al-Husain. Sehingga ia tumbuh menjadi pemuda yang kuat fisiknya, tinggi akalnya, dan bersih jiwanya. Limpahan kemuliaan para imam, menjadikannya sebagai manusia pilih tanding di medan laga, dan pilih sanding di pengabdian agama. hidupnya begitu mulia dengan banyak ibadah, dan matinya juga mulia dengan menggapai syahadah.

Imam Ali Zainal Abidin, yang merupakan saksi karbala, bertutur tentang pamannya ini, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada pamanku Abbas, yang telah mengorbankan hidupnya demi membela saudaranya sehingga kedua tangannya tertebas. Allah Yang Maha Kuasa menganugerahkan kepadanya sepasang sayap yang memudahkannya terbang menuju surga bersama para malaikat sebagaimana Allah menganugerahkan hal yang sama kepada Ja’far bin Abi Thalib. kedudukannya yang khusus inilah yang membuat iri para syuhada lainnya.”

Imam Ja’far Shadiq, sangat memuji pengorbanan Abul Fadl Abbas, “Pamanku Abbas bin Ali” kata Imam Ja’far suatu hari, “Memiliki penglihatan yang tajam dan iman yang menjulang. Ia tetap setia bersama Abu Abdillah (al-Husein) dan berjuang disampingnya, hingga ia menggapai syahadah yang sempurna. Pada kesempatan lainnya, Imam Ja’far menyampaikan salam kepadanya dengan mengatakan, “Segala puji bagi Allah dan para malaikat-Nya. Salam sejahtera bagi para nabi dan orang-orang saleh. Salam bagi seluruh syuhada dan orang-orang yang jujur. Salam sejahtera bagi Abbas bin Ali bin Abi Talib.”

Jadi, Imam Ali, Imam Hasan, dan juga Imam Husein mengetahui dengan jelas kemuliaan diri putra Ummul Banin ini, karena itu mereka dengan sepenuh hati mendidiknya. Dan Abul Fadhl Abbas juga tak menyia-nyiakan kebersamaannya dengan para imam mulia ini. Setiap ajaran mereka diserapnya dan diterapkannya, setiap perintah mereka dilaksanakannya, dan setiap amanat mereka ditunaikannya, inilah yang mengantarkannya pada derajat manusia sempurna.

Abul Fadhl Abbas sangat menghormati Imamnya. Suatu hal yang mengesankan, walaupun Imam Husian adalah saudaranya, tetapi Abul Fadhl Abbas, tak pernah memanggil al-Husain dengan panggilan kakak. Ia selalu memanggil al-Husain dengan sebutan Imam. Ia memang sangat bersyukur menjadi saudara sedarahnya Imam Husian as, tetapi ia juga merasa dirinya tak layak disandingkan dengan Imam Husain as. Konon ibunya, Ummul Banin, pernah mengingatkannya, “Wahai Abbas, engkau memang putranya Ali, saudara Hasan dan Husain, tetapi ingatlah engkau bukan putranya Sayidah Fatimah”. Ummul Banin menyadari bahwa dirinya bukanlah sebanding dengan Sayidah Fatimah, walaupun punya kedudukan yang sama sebagai istrinya Imam Ali.

Dengan penghormatannya yang tinggi itu, membuat Abbas mendudukkan dirinya pada posisi budak di hadapan tuannya. Tak pernah luput sekalipun ia melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. Dikatakan, setiap keluarga Imam Husian meminta sesuatu, maka Abbas pasti mengabulkannya. Tak pernah sekalipun ia gagal membawakan hajat yang diinginkan keluarga imamnya. Hanya satu kali seumur hidupnya, ia gagal memenuhi permintaan keluarga imamnya, yaitu ketika Sukainah, dalam kehausan yang tiada tara, memintanya untuk mengambil air untuk membasahi tenggorokan mereka yang terbakar dahaga. Abbas meneteskan air matanya melihat permata Husain merana, dilanda dahaga di pinggir sunggai Efrat yang melimpah airnya. Ketika kuda-kuda bahkan anjing sekalipun dibiarkan meminum air sungai, namun keluarga Nabi dibiarkan kehausan hingga tubuh terkulai, sungguh manusia-manusia durjana yang biadab, tapi masih mau mengaku umatnya Muhammad.

Abbas tak mampu menahan haru, dengan izin imamnya, ia hentak kudanya menuju sungai Efrat dengan satu tekad, mengambil air untuk keluarga Muhammad. Tak perduli banyaknya musuh yang mengarahkan panah, tombak dan pedang kepadanya. Ia tunjukkan keahlian perangnya. Ia mengamuk bagai banteng ketaton memporak-porandakan barisan musuh yang berusaha menghadang. Setiap ia menggerakkan pedang, terdengarlah suara jeritan, disertai tubuh yang jatuh telentang. Usaha gigihnya tak sia-sia, musuh tak mampu menghadangnya, sampailah ia di pinggir sungai Efrat. Napas memburu, tenggorokan naik-turun melihat air bening mengalir tenang. Terbersit di hatinya, ingin meneguk air untuk membasahi kerongkongannya, tetapi benaknya diliputi wajah-wajah mulia Imam Husian dan putra-putrinya. Tak layak pikirnya, ia meneguk air menghilangkan dahaga, sementara sang Imam dan keluarganya, menanti dalam kehausan yang mendera.

Dengan segera ia mengisi kantong-kantong airnya, kembali menaiki kudanya menuju tenda tempat Sukainah menunggunya. Tapi, pasukan musuh sudah mengepungnya, tak memberi jalan bagi Abbas untuk melewatinya, tanpa perjuangan bersenjata. Abbas mengikat kantong-kantong air ditubuhnya. Dengan pedang di tangan kanan, ia menyongsong pasukan musuh yang beringas ingin membunuhnya. Tak kenal kasihan, ratusan tombak dan pedang digunakan untuk menghadang Abul Fadhl Abbas yang hanya sendirian. Hingga sebuah pedang berhasil menebas lengan Abbas yang sebelah kanan. Tangan kanan itu jatuh terpental, dan darah pun bertebaran, Abul Fadhl Abbas meringis menahan sakit, “Demi Allah!” kata Abbas, “Biarpun tangan kananku buntung, aku takkan berhenti bertarung, akan kubela al-Husain dengan tangan kiriku,,, Apalah arti sepotong tanganku untuk membela agama kakekku, karena aku telah serahkan jiwa demi tegaknya agama.”

Abbas terus berperang di tengah derasnya anak-anak panah yang dilontarkan,,,Tiba-tiba dari arah belakang sebuah ayunan pedang kembali menghantam, menebas tangan kirinya. Abbas mengerang, sakit mendera sekujur tubuhnya. Kegesitannya menghilang, keseimbangannya tak bisa dipertahankan. Abbas tetap berada di atas kudanya dalam keadaan putus kedua tangannya, darah melumuri bajunya, matanya hanya mampu menatap wajah-wajah durjana di sekitarnya. Ia masih berpikir, memperhatikan jalan keluar agar dapat mengantarkan kantong air kepada keluarga Imamnya, tapi apa nak dikata, sebatang anak panah mengenai matanya, luka merekah menebarkan banyak darah, tubuhnya tak mampu lagi bertahan di atas kudanya, ia jatuh tersungkur bebas, karena tak ada lagi tangan yang bisa menopangnya

Wajah Abbas yang berlumuran darah, semakin dilanda kalut dan sedih melihat kantong air putus dan airnya terbuang sia-sia di padang pasir karbala, ia meradang karena tak berhasil memenuhi permintaan keponakannya, Sukainah dan Atikah. Di sisa-sisa tenaganya, ia hanya mampu berteriak, “wahai Imam, datanglah padaku sebelum ajal menjemputku.”

Teriakannya sampai ditelinga al-Husian, al-Husain bergegas menyongsong Abbas, matanya menatap setiap mayat yang yang berserakan. Di manakah Abbas? Imam memperhatikan kesana-kemari, ia melihat sosok tubuh mengerang, semakin dekat semakin terlihat, itulah Abbas, “Abbas saudaraku, apa yang mereka lakukan terhadapmu?” kata al-Husain. Imam mengangkat kepala Abbas, meletakkannya di pangkuannya, tetapi Abbas menggeser kepalanya, meletakkan kembali di padang pasir Karbala. Imam mengangkat dan meletakkan kembali dipangkuannya, “Wahai Imam” kata Abbas, “aku membayangkan saat ajal menjemputmu, tak ada seorang pun yang memangku kepalamu, karena itu aku merasa lebih baik jika kepalaku tetap di atas pasir saat ajal menjemputku. Lagi pula, aku adalah hambamu dan engkau adalah imamku. Tak pantas bagiku meletakkan kepala dipangkuanmu”. Imam Husain tak mampu menahan haru, air mata menetes deras mengharu biru.

“Wahai Imam!”, lanjut Abbas, “waktu aku dilahrikan wajahmulah yang kupandang, maka diakhir hidupku ini, aku juga hanya ingin memandang wajahmu, namun, satu mataku tertusuk anak panah, dan satunya lagi dibanjiri darah. Tanganku sudah tiada, aku mohon padamu untuk membersihkan darah dari sebelah mataku agar aku dapat menatap wajahmu.” Tetesan air mata al-Husain semakin deras

“Wahai Imam!” kata Abbas lagi, “Aku masih ada permohonan padamu. Jika aku wafat, aku tidak ingin jenazahku dibawa ke tenda, karena aku telah berjanji pada Sukainah untuk membawa air kepadanya, tapi aku gagal, aku malu menemuinya sekalipun hanya jasadku saja, begitu pula janganlah engkau bawa Sukainah kemari untuk melihat keadaanku. Karena aku khawatir dirinya tak mampu menahan duka melihat tubuhku seperti ini. Jadi biarkanlah jasadku terbaring sendiri di sini.”

Imam Husian tak mampu berkata apapun, hanya air mata yg berderai, ia bersihkan darah dari wajah Abbas, untuk memenuhi permintaan terakhirnya. Kedua saudara ini saling pandang, Imam Husain kemudian berkata, “Wahai Abbas!, aku juga punya permintaan padamu, sejak kanak-kanak, engkau selalu memanggilku imam, maka diakhir hayatmu ini, aku ingin sekali saja engkau memanggilku kakak.”

Abbas memandang Imam Husain, tubuhnya dan suaranyapun lemah, bibirnya berusaha membuka, imam Husian mendekatkan wajahnya, ia mendengar desahan lirih Abbas, “kakakku, kakakku!”, itulah kata terakhir yang mampu dikatakannya! Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Inilah kisah dua saudara, lahir ditanggal yang hampir sama pada bulan yang sama, dan mereguk syahadah di tempat dan waktu yang sama, mereka berdua memang ditakdirkan Tuhan sebagai pemilik simbol keberanian, kesetiaan, ketegaran, keteguhan, dan tentu saja kebenaran!

Jumat, 25 Agustus 2017

*Doa menyembelih hewan kurban*

http://www.wongsantun.com/2016/09/doa-menyembelih-hewan-kurban.html?m=1

🐐🕌📚👳🏻‍♀📖🐏
*Penyembelihan hewan kurban* hendaknya disembelih setelah _shalat Idul Adha,_ berdasarkan hadits Nabi :

*عَنْ جُنْدَبِ بْنِ سُفْيَانَ قَالَ شَهِدْتُ اْلأَضْحَى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَى صَلاَتَهُ بِالنَّاسِ نَظَرَ إِلَى غَنَمٍ قَدْ ذُبِحَتْ فَقَالَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَلْيَذْبَحْ شَاةً مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَكُنْ ذَبَحَ فَلْيَذْبَحْ عَلَى اسْمِ اللهِ*
Dari Jundab bin Sufyan berkata : _Aku mengalami hari raya Adha bersama Rasulullah saw._
  _Setelah beliau selesai shalat bersama orang-orang, beliau melihat seekor kambing telah disembelih._

 Beliau bersabda : _*Barang siapa menyembelih sebelum shalat, hendaknya ia menyembelih seekor kambing lagi sebagai gantinya, dan barang siapa belum menyembelih, hendahnya ia menyembelih dengan nama Allah.*_
   _(H. R. Muslim no. 5177)_

Hewan yang akan kita sembelih hendaknya  dihadapkan ke *qiblat*  _(arah barat)_ dengan kepala di arah *utara*,
setelah itu kita bacakan _*bismillah,*_  dan lebih sempurna kalau kita baca lengkap _*bismillahir rahmanir rahim.*_

 Setelah itu dianjurkan baca _*shalawat untuk Nabi saw, bertakbir tiga kali,*_ dan sesaat sebelum menyembelih, kita dianjurkan membaca *doa.*


Berikut ini urutan doa untuk menyembelih hewan kurban :

       🕌👳🏻‍♀
*1. Baca basmalah*

*بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ*

_Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang._



0*2. Membaca shalawat untuk Nabi saw*

*اَللهم صَلىِّ عَلىٰ سَـيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلىٰ اٰلِ سَـيِّدِنَا مُحَمَّدٍ*            

_*Ya Allah dilimpahkan rahmat ta'dhim kepada junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kita Nabi Muhammad.*_



*3. Membaca takbir tiga kali*

*اَللهُ أَكْبَرُ ... اَللهُ أَكْبَرُ ... اَللهُ أَكْبَرُ ... وَلِلهِ الْحَمْدُ*

_*Allah Maha Basar, Allah Maha Basar, Allah Maha Basar, segala puji bagi Allah.*_

*4. Baca doa menyembelih*



   📖
*Bila menyembelih hewan kurbannya sendiri ? :*

*اَللهم هٰذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ يَا كَرِيْمُ*

_*Ya Allah,* (hewan) *ini adalah* (nikmat) *darimu, dan* (dengan ini dipersembahkan) *kepada-Mu, karenanya terimalah* (kurban) *dari aku, wahaii Yang Maha Mulya.*_ 🕌


*Bila menyembelih hewan kurban orang lain ? :*

*اَللهم هٰذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنْ .........  يَا كَرِيْمُ*

_*Ya Allah,* (hewan) *ini adalah* (nikmat) *darimu, dan* (dengan ini dipersembahkan) *kepada-Mu, karenanya terimalah* (kurban) *dari .........* (disebut nama yang kurban), *wahai Yang Maha Mulya*_

Itulah lafadz doa saat menyembelih hewan kurban, baik milik sendiri maupun milik orang lain.
 Namun yang wajib dari bacaan itu adalah bacaan basmalah.
  Jika sudah dibacakan basmalah, maka sah penyembelihan hewan kurban tersebut meskipun tidak menambah bacaan selainnya.
 Adapun bacaan-bacaan sesudahnya hanya anjuran bukan hal yang wajib.

 Hal ini berdasarkan firman Allah :

*فَكُلُوْا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِيْنَ*

_*Maka makanlah binatang-binatang* (yang halal) *yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.*_
   _(Q.S. 6 Al An'aam 118)_


*وَلاَ تَأْكُلُوْا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ*

_*Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.*_
   _(Q.S. 6 Al An'aam 121)_

*اللهم صل على محمد وآل محمد*    🙏🏻

Rabu, 23 Agustus 2017

Amalan Hari Arafah

Amalan Malam dan Hari Arofah bagian 1

👉 Amalan Malam dan Hari Arofah

Oleh : Ust Muhammad Taufiq Ali Yahya

Disunnahkan untuk menginap di Mina pada malam Arofah (bagi yang menunaikan Ibada Haji). Untuk melakukan ketaatan kepada Allah dengan berbagai macam ibadah. Terutama untuk sholat di Masjid Kheif. Dimana para nabi juga melakukan sholat sebelum Nabi Muhammad saw. Serta membaca doa malam Arofah.
Dalam Kitab Ahmad bin Ja’far bin Syadzan diriwayatkan dari Nabi saw : “Sesungguhnya malam Arofah siapa yang berdoa akan kebaikan dan mengamalkannya demi ketaatan kepada Allah Azza Wajalla pahalanya sama dengan 7000 tahun, malam tersebut adalah malam doa dan munajat, di malam itu yang bertaubat kepada Allah akan diterima”. (Iqbalul Amal, halaman 634).
Bagi yang tidak menunaikan haji sebaiknya juga membacanya.

Doa Malam Arofah

بِسْمِ اللهِ الرَّحمْنِ الرَّحِيْمِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ يَاشَاهِدَ كُلِّ نَجْوَى، وَمَوْضِعَ كُلِّ شَكْوَى، وَعَالِمَ كُلِّ خَفِيَّةٍ، وَمُنْتَهَى كُلِّ حَاجَةٍ، يَامُبْتَدِئًا بِالنِّعَمِ عَلَى الْعِبَادِ، يَاكَرِيْمَ الْعَفْوِ، يَاحَسَنَ التَّجَاوُزِ، يَاجَوَادُ، يَامَنْ لاَيُوَارِيْ مِنْهُ لَيْلٌ دَاجٍ، وَلاَبَحْرٌ عَجَّاجٌ، وَلاَ سَمَاءٌ ذَاتُ أَبْرَاجِ، وَلاَ ظُلَمٌ ذَاتَ ارْتِنَاجٍ، يَامَنِ الظُّلْمَةُ عِنْدَهُ ضِيَاءٌ أَسْاَلُكَ بِنُوْرِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ، اَلَّذِيْ تَجَلَّيْتَ بِهِ لِلْجَبَلِ فَجَعَلْتَهُ دَكّاً وَخَرَّ مُوْسَى صَعِقًا، وَبِاسْمِكَ الَّذِي رَفَعْتَ بِهِ السَّمَاوَاتِ بِلاَ عَمَدٍ، وَسَطَحْتَ بِهِ اْلأَرْضَ عَلَى وَجْهِ مَاءٍ جَمَدٍ، وَبِاسْمِكَ الْمَخْزُوْنِ الْمَكْنُوْنِ الْمَكْتُوْبِ الطَّاهِرِ الَّذِيْ إِذَا دُعِيْتَ بِهِ أَجَبْتَ، وَإِذَا سُئِلَتْ بِهِ أَعْطَيْتَ وَبِاسْمِكَ السُّبُوْحِ الْقُدُّوْسِ الْبُرْهَانِ الَّذِيْ هُوَ نُوْرٌ عَلَى كُلِّ نُوْرٍ، وَنُوْرٌ مِنْ نُوْرِ يُضِيْءُ مِنْهُ كُلُّ نُوْرِ، إِذَا بَلَغَ اْلأَرْضَ انْشَقَّتْ، وَإِذَا بَلَغَ السَّمَاوَاتِ فُتِحَتْ، وَإِذَا بَلَغَ الْعَرْشَ اهْتَزَّ، وَبِاسْمِكَ الَّذِي تَرْتَعِدُ مِنْهُ فَرَائِصُ مَلاَئِكَتِكَ وَأَسْاَلُكَ بِحَقِّ جَبْرَاءِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَاِسْرَافِيْلَ، وَبِحَقِّ مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَعَلَى جَمِيْعِ اْلأَنْبِيَاءِ وَجَمِيْعِ الْمَلاَئِكَةِ، وَبِاْلإِسْمِ الَّذِي مَشَى بِهِ الْخِضْرُ عَلَى قُلَلِ الْمَاءِ كَمَا مَشَى بِهِ عَلَى جَدَدِ اْلأَرْضَ، وَبِاسْمِكَ الَّذِي فَلَقْتَ بِهِ الْبَحْرَ لِمُوْسَى، وَأَغْرَقْتَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ وَأَنْجَيْتَ بِهِ مُوْسَى بْنَ عِمْرَانَ وَمَنْ مَعَهُ، وَبِاسْمِكَ الَّذِي دَعَاكَ بِهِ مُوْسَى بْن عِمْرَانَ مِنْ جَانِبَ الطُّوْرِ اْلأَيْمَنِ فَاسْتَجَبْتَ لَهُ وَأَلْقَيْتَ عَلَيْهِ مَحَبَّةً مِنْكَ وَبِاسْمِكَ الَّذِيْ بِهِ أَحْيَا عِيْسَ‌ بْنُ مَرْيَمَ الْمَوْتَى وَتَكَلَّمَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا، وَأَبْرَاَ اْلأَكْمَهَ وَاْلأَبْرَصَ بِإِذْنِكَ، وَبِاِسْمِكَ الَّذِيْ دَعَاكَ بِهِ حَمَلَةُ عَرْشِكَ وَجَبْرَائِيْلُ وَمِكَائِيْلُ وَاِسْرَافِيْلُ وَحَبِيْبُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ، وَمَلاَئِكَتُكَ الْمُقَرَّبُوْنَ، وَاَنْبِيَاؤُكَ الْمُرْسَلُوْنَ، وَعِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ مِنْ اَهْلِ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرَضِيْنَ، وَبِاسْمِكَ الَّذِي دَعَاكَ بِهِ ذُوْالنُّوْنِ، إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لاَاِلَهَ إِلاَّأَنْتَ سُبْحَانَكَ إِِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، فَاسْتَجَبْنَ لَهُ وَنَجَّيْتَهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِيْ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَبِاسْمِكَ الَّذِي دَعَاكَ بِهِ دَاوُوْدُ وَخَرَّ لَكَ سَاجِدًا فَغَفَرْتَ لَهُ ذَنْبَهُ، وَبِاسْمِكَ الَّذِي دَعَتْكَ بِهِ آسِيَةُ امْرَاَةُ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنَيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ، فَاسْتَجَبْتَ لَهَا دَعَاءَهَا، وَبِاسْمِكَ الَّذِيْ دَعَاكَ بِهِ أَيُّوْبُ، إِذْ حَلَّ بِهِ الْبَلاَءُ فَعَافَيْتَهُ وَأَتَيْتَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ وَذِكْرَى لِلْعَابِدِيْنَ، وَبِاسْمِكَ الَّذِي دَعَاكَ بِهِ  يَعْقُوْبُ، فَرَدَدْتَ عَلَيْهِ بَصَرَهُ، وَقُرَّة عَيْنِهِ يُوْسُفَ وَجَمَعْتَ شَمْلُهُ، وَبِاسْمِكَ الَّذِي دَعَاكَ بِهِ سُلَيْمَانَ، فَوَهَبْتَ لَهُ مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي ِلأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ، وَبِاسْمِكَ الَّذِيْ سَخَّرْتَ بِهِ الْبُرَاقَ لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ،إِذْقَالَ تَعَالَى سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى، وَقَوْلُهُ سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّااِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ، وَبِاسْمِكَ الَّذِي تَنَزَّلَ بِهِ جَبْرَائِيْلُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ، وَبِاسْمِكَ الَّذِيْ دَعَاكَ بِهِ آدَمُ، فَغَفَرْتَ لَهُ ذَنْبَهُ وَأَسْكَنْتَهُ جَنَّتَكَ وَأَسْاَلُكَ بِحَقِّ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَبِحَقِّ مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّنَ، وَبِحَقِّ إِبْرَاهِيْمَ وَبِحَقِّ فَضْلِكَ يَوْمَ الْقَضَاءِ، وَبِحَقِّ الْمَوَازِيْنِ إِذَا نُصِبَتْ، وَالصُّحُفِ اِذَانُشِرَتْ، وَبِحَقِّ الْقَلَمِ وَمَا جَرَى، وَاللَّوْحِ وَمَاأَحْصَى، وَبِحَقِّ اْلإِسْمِ الَّذِيْ كَتَبْتَهُ عَلَى سُرَادِقِ الْعَرْشِ قَبْلَ خَلْقِكَ الْخَلْقَ وَالدُّنْيَا، وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ بِأَلْفَيْ عَامٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَأَسْاَلُكَ بِاسْمِكَ الْمَخْزُوْنِ فِي خَزَائِنِكَ، اَلَّذِيْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ لَمْ يَظْهَرْ عَلَيْهِ أَحَدٌ مِنْ خَلْقِكَ، لاَمَلَكٌ مُقَرَّبٌ وَلاَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ وَلاَ عَبْدٌ مُصْطَفًى، وَأَسْاَلُكَ بِاسْمِكَ الَّذِي شَقَقْتَ بِهِ الْبِحَارَ، وَقَامَتْ بِهِ الْجِبَالُ، وَاخْتَلَفَ بِهِ الْلَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَبِحَقِّ السَّبْعِ الْمَثَانِي وَالْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ، وَبِحَقِّ الْكِرَامِ الْكَاتِبِيْنَ، وَبِحَقِّ طه وَيس وكهيعص وحم عسق وَبِحَقِّ تَوْرَاةِ مُوْسَى، وَإِنْجِيْلِ عِيْسَى، وَزَبُوْرِ دَاوُوْدَ، وَفُرْقَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ جَمِيْعِ الرُّسُلِ وَبَاهِيًّا شَرَاهِيًّا، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْاَلُكَ بِحَقِّ تِلْكَ الْمُنَاجَاةِ، اَلَّتِي كَانَتْ بَيْنَكَ وَبَيْنَ مُوْسَى بْنِ عِمْرَانَ، فَوْقَ جَبَلِ طُّوْرِ سَيْنَآءَ، وَأَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ الَّذِي عَلَّمْتَهُ مَلَكَ الْمَوْتِ لِقَبْضِ اْلأَرْوَاحِ، وَأَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ الَّذِي كُتِبَ عَلَى وَرَقِ الزَّيْتُوْنِ فَخَضَعَتِ النِّيْرَانِ لِتِلْكَ الْوِرَقَةِ، فَقُلْتَ يَانَارُ كُوْنِي بَرْدًا وَسَلاَمًا، وَأَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ الَّذِي كَتَبْتَهُ عَلَى سُرَادِقِ الْمَجْدِ وَالْكَرَامَةِ يَامَنْ لاَيُخْفِيْهِ سَائِلٌ وَلاَ يَنْقُصُهُ نَائِلٌ، يَامَنْ بِهِ يُسْتَغَاثُ وَاِلَيْهِ يَلْجَأُ، وَأَسْأَلُكَ بِمَعَاقِدِ اْلأَعِزِّ مِنْ عَرْشِكَ، وَمُنْتَهَى الرَّحْمَةِ مِنْ كِتَابِكَ وَبِاسْمِكَ الأَعْظَمَ وَجَدِّكَ الأَعْلَى وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ الْعُلَى، اَللَّهُمَّ رَبَّ الرِّيَاحِ وَمَاذَرَتْ وَالسَّمَآءِ وَمَاأَظَلَّتْ، وَاْلأَرْضِ وَمَاأَقَلَّتْ، وَالشَّيَاطِيْنِ وَمَاأَظَلَّتْ، وَالْبِحَارِ وَمَا جَرَتْ، وَبِحَقِّ كُلِّ حَقٍّ هُوَ عَلَيْكَ حَقٌّ، وَبِحَقِّ الْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَالرَّوْحَانِيِّيْنَ وَالْكَرُوْبِيِّيْنَ وَالْمُسَبِّحِيْنَ لَكَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لاَيَفْتَرُوْنَ، وَبِحَقِّ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلِكَ، وَبِحَقِّ كُلِّ وَلِيٍّ يُنَادِيْكَ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَتَسْتَجِيْبُ لَهُ دُعَاءَهُ يَامُجِيْبُ، أَسْأَلُكَ بِحَقِّ هَذِهِ اْلأَسْمَاءْ، وَبِهَذِهِ الدَّعَوَاتِ، أَنْ تَغْفِرَ لَنَا مَاقَدَّمْنَا وَمَاأَخَّرْنَا، وَمَااَسْرَرْنَا وَمَاأَعْلَنَّا، وَمَا أَبْدَيْنَا وَمَاأَخْفَيْنَا، وَمَاأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، يَاحَفِظَ كُلِّ غَرِيْبٍ، يَامُؤْنِسِ كُلِّ وَحِيْدٍ، يَاقُوَّةَ كُلِّ ضَعِيْفٍ، يَانَاصِرَ كُلِّ مَظْلُوْمٍ، يَارَازِقَ كُلِّ مَحْرُوْمٍ، يَامُؤْنِسَ كُلِّ مُسْتَوْحِشٍ، يَاصَاحِبَ كُلِّ مُسَافِرٍ، يَاحَفِظَ كُلِّ غَرِيْبٍ، يَامُؤْنِسِ كُلِّ وَحِيْدٍ، يَاقُوَّةَ كُلِّ ضَعِيْفٍ، يَانَاصِرَ كُلِّ مَظْلُوْمٍ، يَارَازِقَ كُلِّ مَحْرُوْمٍ، يَامُؤْنِسَ كُلِّ مُسْتَوْحِشٍ، يَاصَاحِبَ كُلِّ مُسَافِرٍ، يَاعِمَادَ كُلِّ حَاضِرٍ، يَاغَافِرَ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيْئَةٍ، يَاغِيَاثَ الْمُسْتَغِيْثِيْنَ يَاصَرِيْخَ الْمُسْتَصْرِخِيْنَ يَاكَاشِفَ كَرْبِ الْمَكْرُوْبِيْنَ، يَافَارِجَ هَمِّ الْمَهْمُوْمِيْنَ، يَابَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرَضِيْنَ يَامُنْتَهَى غَايَةَ الطَّالِبِيْنَ، يَامُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّيْنَ، يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ، يَادَيَّانَ يَوْمِ الدِّيْنِ، يَاأَجْوَدَ اْلأَجْوَدِيْنَ، يَاأَكْرَمَ اْلأَكْرَمِيْنَ، يَاأَسْمَعَ السَّامِعِيْنَ، يَاأَبْصَرَ النَّاظِرِيْنَ، يَاأَقْدَرَ الْقَادِرِيْنَ، إِغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّذِي تُغَيِّرُ النِّعَمَ، وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تُوْرِثُ النَّدَمَ، وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تُوْرِثُ السَّقَمَ، وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَهْتِكُ الْعِصَمَ، وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَرُدُّ الدُّعَاءِ، وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَحْبِسُ قَطْرَ السَّمَاءِ وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تُعَجِّلُ الْفَنَاءَ، وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَجْلِبُ الشَّقَاءَ، وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تُظْلِمُ الْهَوَاءَ، وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَكْشِفُ الْغِطَاءَ، وَاغْفِرْلِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ لاَ يَغْفِرُهَا غَيْرُكَ يَااَللهُ وَاحْمِلْ عَيْنِيْ كُلَّ تَبِعَةٍ ِلأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، وَاجْعَلْ لِي مِنْ أَمْرِي فَرَجًا وَمَخْرَجًاوَيُسْرًا، وَأَنْزِلْ يَقِيْنَكَ فِي صَدْرِي، وَرَجَاءِكَ فِي قَلْبِيْ، حَتَّى لاَأَرْجُوْ غَيْرَكَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْنِي وَعَافِنِيْ فِي مَقَامِيْ، وَاصْحَبْنِيْ فِي لَيْلِي وَنَهَارِيْ، وَمِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِ وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي وَمِنْ تَحْتِيْ، وَيَسِّرْ لِيَ السَّبِيْلَ، وَأَحْسِنْ لِيَ التَّيْسِيْرَ وَلاَتَخْذُلْنِيْ فِي الْعَسِيْرِ وَاهْدِنِيْ يَاخَيْرَ دَلِيْلٍ، وَلاَتَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ فِي اْلأُمُوْرِ، وَلَقِّنِيْ كُلَّ سُرُوْرِ، وَأَقْبِلْنِيْ إِلَى أَهْلِي بِالْفَلاَحِ وَالنَّجَاحِ، مَحْبُوْرًا فِي الْعَاجِلِ وَاْلآجِلِ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَلَقّنِيْ كُلَّ سُرُوْرِ، وَأَقْبِلْنِيْ إِلَى أَهْلِي بِالْفَلاَحِ وَالنَّجَاحِ، مَحْبُوْرًا فِي الْعَاجِلِ وَاْلآجِلِ، اِنَّكَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَارْزُقْنِيْ مِنْ فَضْلِكَ، وَأَوْسِعْ عَلَيَّ مِنْ طَيّبَاتِ رِزْقِكَ، وَاْستَعْمِلْنِيْ فِي طَاعَتِكَ، وَاَجِّرْ نِي مِنْ عَذَابِكَ وَنَارِكَ، وَأَقْبِلْنِيْ إِذَا تَوَفَّيْتَنِيْ إِلَى جَنَّتِكَ بِرَحْمَتِكَ، اَللَّهُمَّ إِنّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَمِنْ تَحْوِيْلِ عَافِيَتِكَ، وَمِنْ حُلُوْلِ نَقِمَتِكَ، وَمِنْ نُزُوْلِ عَذَابِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَمِنْ سُوْءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ اْلأَعْدَاءِ، وَمِنْ شَرّ مَايَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمِنْ شَرّ مَافِي الْكِتَابِ الْمُنْزَلِ، اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْنِيْ مِنَ اْلأَشْرَارِ، وَلاَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ، وَلاَتَحْرِمْنِي صُحْبَةَ اْلأَخْيَارِ، وَأَحْيِنِيْ حَيَاةً طَيِّبَةً وَتَوَفَّنِيْ وَفَاةً طَيِّبَةً، تُلْحِقُنِيْ بِاْلأَبْرَارِ، وَارْزُقْنِي مُرَافَقَةَ اْلأَنْبِيَاءِ، فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُقْتَدِرٍ، اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى حُسْنِ بَلاَئِكَ وَصُنْعِكَ، وَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَاتِّبَاعِ السُّنَّةِ، يَارَبّ كَمَاهَدَيْتَهُمْ لِدِيْنِكَ، وَعَلَّمْتَهُمْ كِتَابَكَ، فَاهْدِنَا وَعَلّمْنَا، وَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى حُسْنِ بَلاَئِكَ، وَصُنْعِكَ عِنْدِيْ خَاصَّةً، كَمَا خَلَقْتَنِي فَأَحْسَنْتَ خَلْقِيْ، وَعَلَّمْتَنْي فَأَحْسَنْتَ تَعْلِيْمِيْ، وَهَدَيْتَنِيْ فَأَحْسَنْتَ هِدَايَتِيْ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى إِنْعَامِكَ عَلَيَّ قَدِيْمًا وَحَدِيْثًا، فَكَمْ مِنْ كَرْبٍ يَاسَيِّدِيْ قَدْ فَرَّجْتَهُ، وَكَمْ مِنْ غَمٍّ يَا سَيِّدِيْ قَدْ نَفَّسْتَهُ، وَكَمْ مِنْ هَمٍّ يَاسَيِّدِيْ قَدْ كَشَّفْتَهُ، وَكَمْ مِنْ بَلاَءٍ يَاسَيِّدِيْ قَدْ صَرَفْتَهُ، وَكَمْ مِنْ عَيْبٍ يَاسَيِّدِيْ قَدْ سَتَرْتَهُ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلىَ كُلِّ حَالٍ، فِيْ كُلِّ مَثْوىً وَزَمَانٍ، وَمُنْقَلَبٍ وَمُقَامٍ، وَعَلَى هَذِهِ الْحَالِ وَكُلِّ حَالٍ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنْ أَفْضَلِ عِبَادِكَ نَصِيْبًا فِي هَذَاالْيَوْمِ، مِنْ خَيْرٍ تَقْسِمُهُ، أَوْضُرٍّ تَكْشِفُهُ، أَوْسُوْءٍ تَصْرِفُهُ، أَوْبَلاَءٍ تَدْفَعُهُ، أَوْخَيْرٍ تَسُوْقُهُ، أَوْرَحْمَةٍ تَنْشُرُهَا، أَوْعَافِيَةٍ تُلْبِسُهَا، فَإِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَبِيَدِكَ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، وَأَنْتَ الْوَاحِدُ الْكَرِيْمُ، اَلْمُعْطِيْ الَّذِيْ لاَيُرَدُّ سَائِلُهُ، وَلاَيُخَيَّبُ آمِلُهُ، وَلاَيَنْقُصُ نَائِلُهُ، وَلاَيَنْفَدُ مَاعِنْدَهُ، بَلْ يَزْدَادُ كَثْرَةً وَطَيِّبًا وَعَطَاءَ وَجُوْدًا وَارْزُقْنِيْ مِنْ خَزَائِنِكَ الَّتِيْ لاَتَفْنَى، وَمِنْ رَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةِ، إِنَّ عَطَاءَكَ لَمْ يَكُنْ مَحْظُوْرًا وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Bismillâhirrohmânirrohîm Allâhumma sholli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad, Allâhumma yâ syâhida kulli najwâ, wa maudhi’a kulli syakwâ, wa‘âlima kulli khofâyyah, wa muntahâ kulli hâjah, yâ mubtadian bin-ni’ami ‘alal ibâd, yâ karîmal ‘afwi, yâ hasanat tajâwuz, yâ jawâd, yâ man lâ yuwârî minhu laylun dâ-j, walâ bahrun ‘ajjâj, walâ samâ-un dzâ-tu  abrôj, walâ zhulamun dzâ-tur tinâj, yâ manizh-zhulmatu ‘indahu diyâ’ as-aluka binû-ri wajhikal karîm, alladzî tajallayta bihî lil-jabali faja’altahu dakkan wakhorro Mûsâ sho’iqô, wabismikal-lâdzî rofa’ta bihis-samâwâti bilâ ‘amad, wa sathohta bihil ardho ‘alâ wajhi mâ-in jamad, wabismikal-makhzûnil maknûnil maktû-bith-thôhir, al ladzî idzâ du’îta bihî ajabta, wa idzâ suilat bihî a’thoyta, wabismikas-subbûhil quddûsil burhânil ladzî huwa nûrun ‘alâ kulli nûrin, wanûrun min-nûrin yudhî’u minhu kullu nûr, idzâ balaghol ardhon syaqqot, wa idzâ balaghos-samâwâti futihat, wa idzâ balaghol arsyah tazza, wabismikal-ladzî tarta’idu minhu farô-ishu malâ-ikatikatik, wa as-aluka bihaqqi Jabrô-îla wa Mîkâ-îla wa Isrô-fîl, wabihaqqi Muhammadinil Mushtho fâ shollol-lâhu ‘alayhi wa âlihi, wa ‘alâ jamî-’il ambiyâ’i wa jamî-’il malâ-ikati, wabil ismil-ladzî masyâ bihil khidhru ‘alâ qulalil mâ-i kamâ masyâ bihi ‘alâ jadadil ardho, wabis mikal-ladzî falaqta bihil bahro li Mûsâ, wa aghroqta fir’auna waqoumahu, wa anjayta bihî Mûsabna Imrô-na wamam ma’ahu, wabis mikalladzî da’âka bihî Mûsabna Imrôna min jâ-nibith-thûril aymani, fastajabta lahû wa alqoyta ‘alayhi mahabbatam minka wabismikal-ladzî bihî ahyâ ‘Isabnu Maryamal mauta, watakallama fil mahdi shobiyyâ wa abro-al akmaha wal abrosho bi-idznika wabismikal-ladzî da’âka bihi hamalatu ‘arsyika, wa Jabrô-îlu wa Mîkâ-îlu wa Isrô-fîlu, wahabî-buka Muhammadun shallallâhu ‘alayhi wa âlihi wamalâ-ikatukal muqorro bûna wa ambiyâ-ukal mursalûn, wa’ibâ-dukash-shô-lihû-na min ahlis-samâ-wâti wal arodhîn, wabismikal-ladzî da’âka bihi dzun-nûni, idz-dzahaba mughôdhiban fadhonna allan-naqdiro ‘alayhi fanâdâ fizh-zhulumâti al-lâ ilâha illâ anta, subhânaka innî kuntu minazh-zhô-limîn, fastajabna lahû wanajjaytahu minal ghommi wakadzâlika tunjil mu’minîn, wabismikal-ladzî da’âka bihi Dâwûdu wakhorro laka sâjidan faghofarta lahû dzambahu, wabismikal-ladzî da’atka bihi â-siyatum roatu Imroatu Firaun idz qôlat robbibni lî ‘indaka baytan fil jannati wanajjinî min Fir’auna wa’amalihî wanajjinî minal qoumizh-zhôlimîn, fastajabta lahâ du’â-ahâ wabismikal-ladzî da’âka bihi Ayyûbu, idz halla bihil balâ-‘ fa’âfaytahu wa â-taytahû ahlahû wamitslahum ma’ahum rohmatam min ‘indika wadzikrô lil’âbidîn, wabismikal-ladzî da’âka bihi Ya’qûbu, farodadta ‘alayhi bashorohu waqurrotu ‘aynihî Yû-sufa wajama’ta syamlah, wabismikal-ladzî da’âka bihi Sulaiman, fawahabta lahu mulkan lâ yambaghî liahadim mim ba’dihi innaka antal wahhâb, wabismikal-ladzî sakh-khorta bihil burôq li Muhammadin shallallâhu ‘alayhi wa âlihi wasallama, idz-qôla ta’alâ subhânal-ladzî asrô bi’abdihî laylam minal masjidil harômi ilal masjidil aqshô, waqouluhû subhânal-ladzî sakh-khoro lanâ hâdzâ wamâ kunnâ lahû muqrinîn, wa-innâ ilâ robbinâ lamunqolibûn, wabismikal-ladzî tanazzala bihi Jabrô-îlu ‘alâ Muhammadin shallallâhu ‘alayhi wa â-lihi, wabismikal-ladzî da’âka bihi Adam, faghofarta lahu dzambahu wa askantahu jannatak, Wa as-aluka bihaqqil qur’â-nil ‘azhîmi wabihaqqi Muhammadin khôtamin-nabiyyîn, wabihaqqi Ibrôhîm, wabihaqqi fadh-lika yaumal qodhô’, wabihaqqil mawâzîna idzâ nushibat, wash-shuhufi idzâ nusyirot, wabihaqqil qolami wamâ-jarô, wal-lauhi wamâ ah-shô, wa bihaqqil ismil ladzî katabtahû ‘alâ surôdiqil arsyi qobla kholkikal kholqo wad-dunyâ, wasy-syamsa walqomaro bi-alfay-‘âmin, wa asy-hadu allâ ilâha illallâh wahdahu lâ syarîkalahu wa anna Muhammadan ‘abduhû warosû-luhu wa as-aluka bismikal makhzûni fî khozâ-inik al-ladzîs ta’tsarta bihî fî ‘ilmil ghoybi ‘indaka lam yazh-har ‘alayhi ahadum min kholqika, lâ malakum muqorrobun, walâ nabiyyun mursalun, walâ ‘abdun Musthofâ, wa as-aluka bismikal-ladzî syaqoq-ta bihil bihâro, waqô-mat bihil jibâ-lu, wakhtalafa bihil-laylu wan-nahâro, wabihaqqis-sab’il matsânî wal qur’ânil ‘azhîm, wabihaqqil kirô-mil kâtibîn, wa bihaqqi Thaha, wa Yasin, wa Kaf  ha ya aîn shod, wa Ha mim ain sin qof, wabihaqqi Taurati Musa, wa Injili Isa, wa Zaburi Dawud, wa Furqôni Muhammadin shallallâhu ‘alayhi wa âlihi wa ‘ala jamî’ir-rusuli wabâhiyyan syarôhiyyâ Allâhumma innî as-aluka bihaqqi tilkal munâjât, allatî kânat baynaka wabayna Musabni ‘Imrona, fauqo jabalith-thur saina’, wa as-aluka bismikal-ladzî ‘allam-tahu malakal mauti liqobdhil arwâhi, wa as-aluka bismikal-ladzî kutiba ‘alâ waroqiz-zaytûni fakhodho ’atin-nîrô-ni litilkal waroqoti, faqulta yâ nâru kûnî bardan wasalâmâ, wa as-aluka bismikal-ladzî katabtahu ‘alâ surôdiqil majdi wal karômati, yâ man lâ yukhfîhi sâ-ilun walâ yanqushuhu nâ-ilun, yâ man bihî yustaghôtsu wa ilayhi yul-ja-u, wa as-aluka bima’âqidil a’izzi min ‘arsyika, wa muntahar-rohmati min kitâ bika, wabismikal-a’zhoma wajaddikal a’lâ, wa kalimâ-tikat tâmmâtil ‘ulâ, Allâhumma rob bar-riyâhi wamâ dzarot, was-samâ-i wa mâ azhollat, wal ardhi wamâ aqollat, wasy-sya yâ-thîni wamâ azhollat, walbihâri wamâ jarot, wabihaqqi kulli haqqin huwa ‘alayka haqq, wabihaqqil malâ-ikatil muqorrobîn, war-rouhâniyyîna wal karubiyyîn, wal musab bihîna laka billayli wan-nahâri lâ yafturûn, wabihaqqi Ibrôhîma kholîlika, wabihaqqi kulli waliyyin yunâdîka baynash-shofâ wal marwah, watastajîbu lahu du’â-ahu yâ mujîb, as-aluka bihaqqi hâdzihil asmâ’, wabihâdzid-da’awât, antaghfiro lanâ mâ qoddamnâ wamâ akh-khornâ, wamâ asrornâ wamâ a’lannâ, wamâ abdaynâ wamâ akhfaynâ, wamâ anta a’lamu bihi minnâ, innaka ‘alâ kulli syai-in qodîr, birohmatika yâ arhamar-rôhimîn yâ hâfizho kulli ghorîbin, yâ mu’nisa kulli wahîdin, yâ quwwata kulli dho’îf, yâ nâshiro kulli mazhlumin, yâ rôziqo kulli mahrûm, yâ mu’nisa kulli mus tauhisyin, yâ shôhiba kulli musâfirin, yâ ‘imâda kulli hâdhirin, yâ ghâfiro kulli dzambin wakhothîqtin, yâ ghiyâtsal mustaghîtsin, yâ shorikhol mustash-rikhîn, yâ kâsyifa karbil makrûbîn, yâ fârija hammil mahmûmîn, yâ badî’as-samâwâti wal arodhîna, yâ muntahâ ghôyatath-thôlibîn, yâ mujîba da’watil mudh-thorrîn, yâ arhamar-rôhimîn, Yâ robbal ‘âlamîn yâ dayyâna yaumid-dîn, yâ ajwadal ajwadîn, yâ akromal akromîn, yâ asma’as-sâmi’în, yâ abshoron-nâzhirîn, yâ aqdarol qôdirîn, ighfir liyadz-dzunûbal ladzî tughoyyirun-ni’am, waghfir liyadz-dzunûbal latî turitsun-nadam, waghfir liyadz-dzunûbal latî tûritsus-saqom, waghfir liyadz-dzunûbal latî tahtikul ‘ishom, waghfir liyadz-dzunûbal latî taruddud-duâ’, waghfir liyadz-dzunûbal latî tahbisu qothros-samâ’, waghfir liyadz-dzunûbal latî tu’ajjilul fanâ’, waghfir liyadz-dzunûbal latî tajlibusy-syaqô’,  waghfir liyadz-dzunûbal latî tuzhlimul hawâ’, waghfir liyadz-dzunûbal latî taksyiful ghithô’, waghfir liyadz-dzunûbal latî lâ yaghfiruhâ ghoiruka, Yâ Allâh, wahmil ‘ainî kulla tabi’atin li ahadin min kholqika, waj’al-lî min amrî farojan wamakhrojan wayusron, wa anzil yaqînaka fî shodrî, warojâ-ika fî qolbî, hattâ lâ arjû ghoyroka, Allâhummah-fazhnî wa ‘âfinî fî maqômî, wash-habnî fî laylî wanahârî, wamim bayni yadayya wamin kholfî, wa’ay-yamînî wa’an syimâlî, wamin fauqî wamin tahtî, wayassirliyas-sabîl, wa ahsin liyat-taysîr, walâ takh-dzulnî fil ‘asîr, wahdinî yâ khoyro dalîl, walâ takilnî ilâ nafsî fil umûr, walaqqinî kulla surûr,  wa aqbilnî ilâ ahlî bil falâhi wan-najâhi, mahbûron fil ‘âjili wal-âjili innaka ‘alâ kulli syai-in qodîr warzuqnî min fadhlika, wa ausi’ ‘alayya min thoyyibâti rizqik, wasta’malnî fî thô’atik, wa-ajjirnî min ‘adzâbika wanârik, wa aqbilnî idzâ tawaffaytanî ilâ jannatika birohmatik, Allâ humma innî a’ûdzubika min zawâli ni’matik, wamin tahwîli ‘âfiyatik, wamin hulûli naqomatik, wamin nuzûli ‘adzâbik, wa a’ûdzubika min jahdil balâ’, wadarokisy-syaqô’, wamin sû-il qodhô’, wasyamâtatil a’dâ’, wamin syarri mâ yanzilu minas-samâ’, wamin syarri mâ fil kitâbil munzali, Allâhumma lâ taj’alnî minal asyrôri, walâ min ash-hâbin-nâri, walâ tahrimnî shuhbatal akhyâr, wa ahyini hayâtan thoyyibatan, watawaffanî wafâtan thoyyibatan, tulhiqunî bil abrôr, warzuqnî murôfaqotal ambiyâ’ fî maq’adi shid qin ‘inda malîkin muqtadirin, Allâhumma lakal hamdu ‘alâ husni balâ-ika washun’ika, wala- kal hamdu ‘alal islâm wat-tibâ’is-sunnati, yâ robbi kamâ hadaytahum lidînika, wa’allam ta-hum kitâbaka, fahdinâ wa’al-limnâ, walakal hamdu ‘alâ husni balâ-ika washun-’ika’indî khôsh-shotan, kamâ kholaqtanî fa-ahsanta kholqî, wa’al lamtanî fa ahsanta ta’lîmî, wahadaytanî fa ahsanta hidâyatî, falakal hamdu ‘alâ in’âmika ‘alayya qodîman wahadî-tsan, fakam min karbin yâ sayyidî qod farrojtah, wakam min ghommin yâ sayyidî qod naffastah, wakam min hammin yâ sayyidî qod kasy-syaftah, wakam min balâ-in yâ sayyidî qod shoroftah, wakam min ‘aibin yâ sayyidî qod satartah, falakal hamdu ‘alâ kulli hâlin fî kulli mats-wan wazamânin, wamunqolabin wamaqô-min, wa ‘alâ hâdzihil hâli wakulli hâlin, Allâhummaj’alnî min afdholi ‘ibâdika nashî-ban fî hâ-dzal yaumi, min khoyrin taqsimuhu au dhurrin taksyifuh, au sû-in tashrifuh, au balâ-in tadfa-uh, au khoyrin tasûquh, au rohmatin tansyuruhâ, au ‘âfiyatin tulbisuhâ, fa-innaka ‘alâ kulli syai-in qodîr, wabiyadika khozâ-inus-samâ-wâti wal ardhi, wa antal wâhidul karîm, almu’thil-ladzî lâ yuroddu sâ-iluhu walâ yukhoyyabu âmiluh, walâ yanqushu nâ-iluhu, walâ yanfadu mâ ‘indahu, bal yazdâdu katsrotan wathoyyiban wa’athô’an wajûdan, warzuqnî min khozâ-inikal-latî lâ tafnâ, wamin rohmatikal wâsi’at, inna ‘athô-ika lam yakun mahz-hûron,  wa anta ‘alâ kulli syai-in qodîr, birohmatika yâ arhamar rôhimînrôhimîn

Dengan asma Allah Yang Mahakasih dan Maha sayang. Ya Allah curahkanlah rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah Dzat Yang menyaksikan rahasia. Yang menjadi tem-pat segala penga duan. Yang mengetahui segala yang tersembunyi. Yang mengabul kan segala hajat. Duhai Yang Memberi berbagai kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya. Duhai Yang Maha Pemaaf. Duhai Yang Maaf-Nya indah. Duhai Yang Maha dermawan. Duhai Yang tidak tersembunyi baginya  malam yang gelap, lautan yang bergelombang, langit yang ber-bintang dan kegelapan yang tertutup. Duhai Yang kegelapan disisinya-Nya menjadi terang. Daku memohon kepada-Mu dengan cahaya wajah-Mu Yang Mulia. Yang dengannya Engkau menampak kannya kepada gunung sehingga Engkau menja-dikan gunung hancur dan Musa jatuh pingsan. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu Yang Engkau tinggi kan. Daku memohon kepada-Mu yang dengannya langit tak bertiang dan Engkau bentangkan dengannya bumi di atas permukaan air yang tenang. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang tersembunyi. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang tertulis. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang suci, jika Engkau dipanggil dengannya niscaya Engkau akan menjawab, jika diminta dengannya niscaya Engkau akan memberi. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang Mahasuci yang diliputi cahaya, yang berupa cahaya di atas cahaya  dan cahaya dari cahaya yang bersinar darinya segala ca haya,  yang jika mengenai bumi maka ia terbelah, yang jika mengenai langit maka ia akan terbuka dan jika mengenai  Arsy maka akan berguncang. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu, yang begoncang dengannya para malaikat-Mu.
Daku memohon kepada-Mu demi kedudukan Jibril, demi kedudukan Mi kail, demi kedudukan Israfil. Daku memohon kepada-Mu demi kedudukan Nabi Muhammad saw. Daku memohon kepada-Mu demi kedudukan seluruh nabi dan malaikat. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang berjalan den gannya Nabi Khidir di atas air sebagaimana ia berjalan di atas permukaan tanah. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang Engkau belah dengannya lautan untuk Musa dan Engkau tenggelamkan Firaun dan kaumnya dan Engkau selamatkan dengannya Musa bin Imran dan para pengikutnya. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang berdoa dengannya Musa  bin Imran  dari bukit Thur al-Aiman lalu Engkau Kabul kan permintaanya dan Engkau menaruh rasa kasih sayang padanya. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang di pakai Nabi Isa bin Maryam untuk menghidupkan orang-orang mati dan ia dapat berbicara saat masih kecil di buaian, dan ia dapat menyem buhkan orang yang buta dan orang yang belang dengan izin-Mu. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang berdoa dengannya para malaikat pembawa Arsy-Mu. Jibril, Mikail, Israil dan kekasih-Mu Muhammad saw, dan para malaikat-Mu yang dekat dan para nabi-Mu yang diutus serta hamba-hamba-Mu yang saleh dari penghuni langit dan bumi. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang berdoa dengannya Dzun Nun/Nabi Yunus ketika ia pergi dalam keadaan dimarahi lalu ia mengira Engkau tidak akan mendapatinya sehingga ia memanggil-manggil dalam kegelapan ; lâ ilâha illa anta subhânaka innî kuntu minazh-zhôlimîn; Bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Eng-kau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim, lalu Engkau mengabulkanya dan menye lamatkanya dari kesusahan sebagaimana Engkau menyelamatkan orang-orang mukmin.  Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang berdoa dengannya Nabi Daud a.s. dia bersujud kepada-Mu dan Engkau mengampuni dosanya. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang berdoa dengannya Asiyah, istri Firaun, ketika ia berkata: ‘Tuhanku, bangunlah untukku rumah di surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbua tannya serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim lalu Engkau mengabulkan doanya. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang berdoa dengannya Nabi Ayub ketika ia terkena cobaan lalu Engkau menyembuhkannya dan Engkau memberikan kepadanya dan keluarganya serta orang-orang seperti  mereka rahmat dari sisi-Mu dan peringatan bagi orang-orang yang menyembah. Daku memohon kepada-Mu  yang dengannya Nabi Ya’qub berdoa sehingga Engkau mengembalikan kepadanya matanya dan [putra] kesayangannya Yusuf serta Engkau menyatukan mereka. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang berdoa dengannya Nabi Sulaiman lalu Engkau mem-berinya kerajaan yang tidak diraih oleh seorangpun setelahnya. Sesungguhnya Engkau Pemberi karunia. Daku memohon kepada-Mu dengan Asma-Mu yang Engkau kerahkan dengannya Buroq untuk Muhammad saw. Allah Swt  berfirman: “Mahasuci Dia yang menjalankan hamba-Nya di waktu malam dari Masjidil Haram sampai Masjidil Aqsa. Dan  firman-Nya: “Mahasuci Tuhan yang telah menun dukkan semua ini bagi kami padahal kami sebe-lumnya tidak mampu menguasainya dan sesung-guhnya kami akan  kembali  kepada Tuhan kami. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang turun dengannya Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang berdoa dengannya Nabi Adam sehingga Engkau mengampuni dosan ya dan Engkau menetapkannya di surga-Mu. Daku memohon kepada-Mu dengan kedudukan al-Qur’an yang agung dan kedudukan Nabi Muhammad, sebagai penutup para nabi, Daku memohon kepada-Mu dengan kedudukan Nabi Ibrahim, dan kedudukan keputusan-Mu pada hari perhitungan dan demi timbangan ketika di tegakkan dan kitab ketika disebarkan dan demi pena dan apa yang tercatat dalam papan dan apa yang dihitung dan demi nama yang Engkau tulis di atas paviliun Arsy, sebelum Engkau menciptakan manusia, dunia, mata-hari, dan bulan selama duaribu tahun.
Daku besaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad saw adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang tersembunyi di tempat penyimpanan-Mu yang Engkau letakan di alam ghaib di sisi-Mu yang tidak menge tahuinya seorang pun dari ciptaan-Mu, baik malaikat yang dekat, nabi yang diutus maupun hamba yang terpilih. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang Engkau belah dengannya lautan dan tegak dengannya gunung dan dengannya siang dan malam silih berganti. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu dan demi kedudukan (tujuh yang diulang-ulang) surah al-Fatihah dan al-Qur’an yang agung dan demi para malaikat yang mencatat dan demi kedudukan Thaha, Yasin, Kaf  ha yaa ‘ain shad, Ha mim ‘ain sin qof, dan demi kedudukan Taurat Musa, Injil Isa, Zabur Daud dan Al-Qur’an Muham mad saw serta semua rasul. Ya Allah, daku memo-hon kepada-Mu demi kedudukan muna jat (dialog) yang terjadi antara Engkau dan Nabi Musa bin Imran di atas gunung Thur Saina. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang yang ditulis di atas daun Zaitun lalu api tunduk kepada daun itu sehingga Engkau berkata; Duhai api jadilah dingin dan membawa keselamatan. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang yang Engkau catat di atas paviliun kemuliaan dan kehor-matan. Duhai  yang tidak dapat bersembunyi dari orang yang meminta dan tidak mengurangi kedudu-kan-Nya orang yang memperoleh karunia-Nya. Duhai yang menjadi tempat pertolongan dan permintaan. Daku memohon kepada-Mu dengan  kemuliaan yang ada di Arsy-Mu dan rahmat yang ada di Kitab-Mu. Daku memohon kepada-Mu dengan asma-Mu yang agung dan kedudukan-Mu yang tinggi dan kalimat-Mu yang sempurna. Ya Allah, Duhai Pengatur angin dan apa yang di tebarkannya. Ya Allah, Duhai Pengatur langit dan apa yang dinaunginya. Ya Allah, Duhai Penga-tur bumi dan apa yang dibawanya. Ya Allah, Duhai Pengatur setan dan apa yang di sesatkannya. Ya Allah, Duhai Pengatur apa saja yang terjadi, dan demi segala kebenaran yang ada di sisi-Mu demi malaikat yang dekat. Demi orang-orang yang mulia yang bertasbih kepada-Mu sepanjang malam dan siang. Daku memohon kepada-Mu demi Ibrahim kekasih-Mu dan demi setiap wali yang berdoa kepada-Mu antara Shafa dan Marwa lalu Engkau menga bulkan doanya Duhai yang mengabulkan segala permintaan,  demi asma-asma ini dan demi doa-doa ini.

Agar Engkau mengampuni dosa kami yang lalu dan yang sekarang, yang kami rahasiakan dan yang kami nyatakan, yang kami ungkapkan dan yang kami sembunyikan, dan Engkau lebih  mengetahuinya daripada kami. Sesunguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu, dengan rahmat-Mu Duhai yang Mahakasih di antara yang mengasihi. Duhai Yang Menjaga segala yang asing. Duhai Yang Menghibur setiap yang sendirian, Duhai Kekuatan setiap yang lemah. Duhai Penolong setiap yang dianiaya.  Duhai Yang Memberi rezeki setiap orang yang tidak mampu. Duhai Yang Membahagiakan setiap yang cemas. Duhai Teman setiap orang yang berpergian. Duhai Yang Menjaga segala yang asing. Duhai Yang Menghibur setiap yang sendirian. Duhai Kekuatan setiap yang lemah. Duhai Penolong setiap yang dianiaya.  Duhai Yang Memberi rezeki setiap orang yang tidak mampu. Duhai Yang Membahagiakan setiap yang cemas. Duhai Teman setiap orang yang berpergian. Duhai Penjaga setiap yang ada di rumah. Duhai Pengampun setiap dosa dan kesalahan. Duhai Penolong orang-orang yang memerlukan pertolo-ngan. Duhai Yang Menyambut teriakan orang-orang yang berteriak. Duhai Penyingkap segala duka nestapa. Duhai Yang Menghilangkan segala kege-lisahan. Duhai Pencipta langit dan bumi. Duhai Puncak Harapan orang-orang yang meminta. Duhai Yang Mengabulkan doa orang-orang yang kepe pet. Duhai Yang Maha Pengasih di antara yang menga-sihi. Duhai Tuhan semesta alam. Duhai Yang Menjadi Hakim (Pengadil) di hari kiamat. Duhai Yang Maha Dermawan. Duhai Yang  Mahamulia. Duhai Yang Maha Mendengar. Duhai Yang Maha Melihat. Duhai Yang Maha kuasa di antara yang berkuasa.

Ya Allah, Ampunilah dosa-dosaku yang dapat mengu bah nikmat. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang dapat mendatangkan penyesa lan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang dapat mewariskan penyakit. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang dapat menolak doa. Ampunilah dosa-dosaku yang dapat menahan tetesan air hujan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang dapat menyegerakan kehancuran. Ya Allah, ampu-nilah dosa-dosaku yang dapat  mendatangkan ben-cana, ampunilah dosa-dosaku yang dapat mengge-lapkan udara. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang dapat menyingkap tirai. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang tidak dapat mengampuninya kecuali Engkau. Ya Allah. Hindarkanlah daku dari segala bentuk kezaliman kepada hamba-Mu dan berilah aku jalan keluar dan kemudahan dalam setiap urusanku karuniailah daku keyakinan kepada-Mu dalam dadaku dan harapan kepada-Mu dalam hatiku sehingga aku tidak berharap kecuali kepada-Mu.

Ya Allah, jagalah daku dan selamatkanlah aku saat ini serta lindungilah aku di waktu malamku, di waktu siangku, dari depanku, dari belakang ku, dari sebelah kananku, dari sebelah kiriku, dari atasku dan dari ini serta lindungilah aku di waktu malamku, di waktu siangku, dari depanku, dari belakang ku, dari sebelah kananku, dari sebelah kiriku, dari atasku dan dari  bawahku. Janganlah Engkau serah kan segala urusan kepada diriku sendiri. Mudahkanlah  untukku segala  jalan kebaikan dan janganlah Engkau biarkan aku dalam kesulitan. Berilah aku petun juk, Duhai Sebaik-baik Pemberi Petunjuk. Berilah aku kebaha giaan dalam kehidupan. Kembalikanlah aku kepada  keluargaku dengan membawa keberuntungan dan keselamatan baik di waktu yang dekat maupun di waktu yang jauh. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Berilah aku rezeki dari keutama-an-Mu dan luaskanlah untukku kebaikan rezeki-Mu dan doronglah aku untuk menaati-Mu. Selamatkan-lah aku dari azab-Mu dan neraka-Mu dan jika Engkau mematikan aku maka antarkanlah aku ke sorga dengan rahmat-Mu.

Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari hilangnya nik mat-Mu dan berubahnya karunia-Mu dan dari datangnya ancaman-Mu dan dari turunnya siksa-Mu. Aku berlindung pada-Mu dari kerasnya sik saan dan dahsyatnya bencana dan dari takdir yang buruk dan per angkap musuh, Aku berlindung pada-Mu dari kejahatan yang turun dari langit dan dari kejahatan yang terdapat dari kitab yang di turunkan. Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan aku termasuk orang-orang yang jahat, tidak juga termasuk orang-orang yang menghuni neraka, dan jangan lah Engkau cegah aku dari pertemuan dengan orang-orang yang baik. Berilah aku kehidupan yang baik dan kematian yang baik juga serta gabungkanlah aku bersama orang-orang yang baik. Karuniailah aku persahabatan dengan para nabi di tempat yang mulia dan di sisi Tuhan Yang Maha kuasa.

Ya Allah, bagi-Mu pujian atas keindahan pujian-Mu dan perbuatan-Mu, dan bagi-Mu pujian atas Islam dan pengikut sunnah. Ya Rabbi, sebagai-mana Engkau memberikan petunjuk bagi mereka untuk mengikuti agama-Mu dan Engkau ajarkan Kitab-Mu kepada mereka maka berilah kami petunjuk dan ajarilah kami. Bagi-Mu pujian atas kebaikan ujian-Mu dan perbuatan-Mu khususnya terhadap ciptaan-Mu kepadaku yang dengannya Engkau memperin dah Penciptaanku dan Engkau mengajariku lalu Engkau  menyempurna kan pendidi-kanku dan Engkau bimbing aku lalu Engkau sempurnakan bimbingan itu kepadaku. Bagi-Mu pujian atas segala nikmat-Mu padaku, baik yang lalu maupun yang sekarang. Junjunganku, berapa banyak kesedihan yang Engkau hilangkan. Duhai junjungan ku berapa banyak duka yang Engkau tutupi. Duhai junjunganku berapa banyak nestapa yang Engkau singkirkan. Duhai junjunganku, berapa banyak bala’ yang Engkau singkirkan. Duhai junjunganku, berapa banyak aib yang Engkau tutupi. Bagi-Mu pujian dalam setiap kea daan. Bagi-Mu pujian di setiap tempat dan waktu.  Bagi-Mu pujian dalam keadaan ini dan setiap keadaan.

Ya Allah, jadikanlah daku hamba-Mu yang paling baik dalam menerima bagian dari kebaikan yang Engkau bagikan hari ini atau keburukan yang Engkau singkirkan atau kejahatan yang Engkau tiadakan atau bencana yang Engkau buang atau kebaikan yang Engkau berikan atau rahmat yang Engkau sebarkan atau kesehatan yang Engkau anugerahkan. Sesungguhnya Engkau Maha-kuasa atas segala sesuatu. Di tangan-Mu khazanah langit dan bumi dan Engkau Maha Esa lagi Mahamulia, Yang Maha Dermawan, Yang Tidak Pernah Menolak orang yang memintanya. Yang tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya. Yang tidak pernah berkurang pemberian-Nya. Yang tidak pernah habis apa yang ada di sisi-Nya bahkan bertambah banyak, bertambah baik, bertambah murah. Berilah aku dari karunia-Mu yang tidak pernah habis, dari rahmat-Mu yang luas. Sesungguh-n ya  karunia-Mu  tidak akan pernah tercegah dari makhluk-Mu. Dan Engkau Mahakuasa dari segala sesuatu, dengan rahmat-Mu. Duhai Yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi. Yâ arhamar rôhimîn.

Agama

Ziarah Kubur Muslim

*Amalan Ziarah Kubur Muslimin* *Saat Imam Shadiq as ditanya bagaimana cara kita menyampaikan salam kepada Ahli Kubur? Beliau menjawab:* ...

Herbal